A. Pengertian Penginderaan Jauh (Inderaja)
Penginderaan berasal dari dua suku kata dasar yaitu indera yang berarti melihat dan jauh berarti dari
jarak jauh. Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi suatu objek, daerah
atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan
objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).
Penginderaan berasal dari dua suku kata dasar yaitu indera yang berarti melihat dan jauh berarti dari
jarak jauh. Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi suatu objek, daerah
atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan
objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).
Penginderaan jauh juga didefinisikan sebagai proses perolehan informasi tentang suatu obyek tanpa
adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut (Rees, 2001; Elachi, 2006). Informasi
diperoleh dengan cara deteksi dan pengukuran berbagai perubahan yang terdapat pada lahan dimana
obyek berada. Proses tersebut dilakukan dengan cara perabaan atau perekaman energi yang dipantulkan
atau dipancarkan, memproses, menganalisa dan menerapkan informasi tersebut. Data penginderaan jauh
memerlukan pengolahan untuk dapat digunakan sebagai sumber informasi suatu wilayah, Data
penginderaan jauh berupa citra (imagery). Data tersebut dapat dianalisis untuk mendapatkan informasi
tentang objek, daerah atau fenomena yang diteliti. Proses penerjemahan data pengindredaran jauh
menjadi informasi disebut interpretasi data. Apabila dilakukan secara digital disebut interpretasi citra
digital (Digital image interpretation).
B. Komponen Penginderaan Jauh
Untuk memperoleh informasi keruangan baik itu dalam bentuk citra maupun foto udara dalam
dalam penginderaan jauh dibutuhkan komponen-komponen sebagai berikut: 1. Sumber tenaga
Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga, baik sumber tenaga alamiah (pasif)
maupun sumber tenaga buatan (system aktif). Bila sumber tenaga yang digunakan berasal
dari matahari (alamiah) atau obyekitu sendiri disebut indera system pasif. Bila sumber
tenaganyaberasal dari buatan manusia maka disebut sebagaisistemaktif. Tenaga ini
mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian di pantulkan ke sensor. Jumlah tenaga
matahari yang mencapai bumi di pengaruhi oleh waktu, lokasi, dan cuaca. Jumlah tenaga
yang diterima pada siang ahari lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah pada pagi
atau sore hari
Spectrum elektromagnetik merupakan berkas dari tenaga elektromagnetik yang
melipuri sinar gamma, x, ultraviolet, tampak infra merah, gelombang mikro, dan
gelombang radio. Spectrum yang biasa digunakan dalam peginderaan jauh adalah sebagian
dari spectrum infra merah dekat (0,03 – 0,4 µm), spectrum tampak (0,4 – 0,7 µm),
spectrum infra merah dekat (0,7 – 1,3 4 µm), spektruminfra merah thermal (3 – 18 4 µm),
dan gelombang mikro (1 mm – 1m). 2. Atmosfer
Sebelum mengenai obyek, energi yang dihasilkan sumber tenaga merambat melewati
atmosfer. Atmosfer membatasi bagian spectrum elektromagnetik yang dapat digunakan
dalam penginderaan jauh. Pengaruh atmosfer merupakan fungsi panjang gelombang dan
bersifat selektif terhadap panjang gelombang. Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang
gelombang sehingga hanya sebagian kecil tenaga elektromagnetik dari radiasi sinar
Matahari yang dapat mencapai permukaan bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan
jauh. Bagian spektrum elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai
permukaan bumi disebut jendela atmosfer (atmospheric window). Kisaran panjang
gelombang yang paling banyak digunakan dalam penginderaan jauh adalah sebagai berikut. Spektrum Gelombang Cahaya Tampak (Visible), yaitu spektrum gelombang cahaya
yang memiliki panjang gelombang antara 0,4μm–0,7μm. Cahaya tampak yang paling
panjang adalah merah, sedangkan yang paling pendek adalah violet. Spektrum Gelombang Cahaya Inframerah (Infrared), yaitu spektrum gelombang
cahaya yang memiliki panjang gelombang antara 0,7μm–1,0μm. Spektrum Gelombang Mikro, yaitu spektrum gelombang yang memiliki panjang
gelombang antara 1,0μm–1,0m. Tenaga berupa gelombang elektromagnetik dari
radiasi Matahari tidak dapat mencapai permukaan bumi secara utuh. Gelombang
elektromagnetik mengalami hambatan oleh atmosfer. Hambatan ini terutama
disebabkan penyerapan, pantulan, dan hamburan oleh butir-butir yang ada di
atmosfer, seperti debu, uap air, gas karbon dioksida, dan ozon. 3. Interaksi Tenaga dengan Objek
Intraksi tenaga dengan objek sesuai dengan asas kekekalan tenaga, maka terdapat tiga
interaksi, yaitu dipantulkan, diserap, dan ditransmisiskan/diteruskan.TEM yang sampai ke
permukaan bumi akan berinteraksi dengan segala objek yang ada. Obyek di permukaan bumi
mempunyai karekteristik yang berbeda srtu dengan yang lainnya. Pada citra hitam putih
mempunyai tingkat rona atau kecerahan yang berbeda obyek satu dengan yang lain. 4. Sensor dan wahana
TEM yang dipantulkan obyek di permukaan bumi dapat diterima oleh sensor yang dipasang
dalam wahan tertentu di udara. Ada banyak sensor dengan sifat dan karekteristik masing-
masing. Ada sensor yang dapat menyadap obyek berukuran kecil ( 1 km). Ukuran terkecil yang
dapat disadap oleh sensor dinamakan sebagai resolusi spasial. Resolusi spasial ini merupakan
petunjuk kualitas sensor, semakin kecil obyek yang dapat direkam olehnya, semakin teliti
informasinya.
adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut (Rees, 2001; Elachi, 2006). Informasi
diperoleh dengan cara deteksi dan pengukuran berbagai perubahan yang terdapat pada lahan dimana
obyek berada. Proses tersebut dilakukan dengan cara perabaan atau perekaman energi yang dipantulkan
atau dipancarkan, memproses, menganalisa dan menerapkan informasi tersebut. Data penginderaan jauh
memerlukan pengolahan untuk dapat digunakan sebagai sumber informasi suatu wilayah, Data
penginderaan jauh berupa citra (imagery). Data tersebut dapat dianalisis untuk mendapatkan informasi
tentang objek, daerah atau fenomena yang diteliti. Proses penerjemahan data pengindredaran jauh
menjadi informasi disebut interpretasi data. Apabila dilakukan secara digital disebut interpretasi citra
digital (Digital image interpretation).
B. Komponen Penginderaan Jauh
Untuk memperoleh informasi keruangan baik itu dalam bentuk citra maupun foto udara dalam
dalam penginderaan jauh dibutuhkan komponen-komponen sebagai berikut: 1. Sumber tenaga
Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga, baik sumber tenaga alamiah (pasif)
maupun sumber tenaga buatan (system aktif). Bila sumber tenaga yang digunakan berasal
dari matahari (alamiah) atau obyekitu sendiri disebut indera system pasif. Bila sumber
tenaganyaberasal dari buatan manusia maka disebut sebagaisistemaktif. Tenaga ini
mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian di pantulkan ke sensor. Jumlah tenaga
matahari yang mencapai bumi di pengaruhi oleh waktu, lokasi, dan cuaca. Jumlah tenaga
yang diterima pada siang ahari lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah pada pagi
atau sore hari
Spectrum elektromagnetik merupakan berkas dari tenaga elektromagnetik yang
melipuri sinar gamma, x, ultraviolet, tampak infra merah, gelombang mikro, dan
gelombang radio. Spectrum yang biasa digunakan dalam peginderaan jauh adalah sebagian
dari spectrum infra merah dekat (0,03 – 0,4 µm), spectrum tampak (0,4 – 0,7 µm),
spectrum infra merah dekat (0,7 – 1,3 4 µm), spektruminfra merah thermal (3 – 18 4 µm),
dan gelombang mikro (1 mm – 1m). 2. Atmosfer
Sebelum mengenai obyek, energi yang dihasilkan sumber tenaga merambat melewati
atmosfer. Atmosfer membatasi bagian spectrum elektromagnetik yang dapat digunakan
dalam penginderaan jauh. Pengaruh atmosfer merupakan fungsi panjang gelombang dan
bersifat selektif terhadap panjang gelombang. Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang
gelombang sehingga hanya sebagian kecil tenaga elektromagnetik dari radiasi sinar
Matahari yang dapat mencapai permukaan bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan
jauh. Bagian spektrum elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai
permukaan bumi disebut jendela atmosfer (atmospheric window). Kisaran panjang
gelombang yang paling banyak digunakan dalam penginderaan jauh adalah sebagai berikut. Spektrum Gelombang Cahaya Tampak (Visible), yaitu spektrum gelombang cahaya
yang memiliki panjang gelombang antara 0,4μm–0,7μm. Cahaya tampak yang paling
panjang adalah merah, sedangkan yang paling pendek adalah violet. Spektrum Gelombang Cahaya Inframerah (Infrared), yaitu spektrum gelombang
cahaya yang memiliki panjang gelombang antara 0,7μm–1,0μm. Spektrum Gelombang Mikro, yaitu spektrum gelombang yang memiliki panjang
gelombang antara 1,0μm–1,0m. Tenaga berupa gelombang elektromagnetik dari
radiasi Matahari tidak dapat mencapai permukaan bumi secara utuh. Gelombang
elektromagnetik mengalami hambatan oleh atmosfer. Hambatan ini terutama
disebabkan penyerapan, pantulan, dan hamburan oleh butir-butir yang ada di
atmosfer, seperti debu, uap air, gas karbon dioksida, dan ozon. 3. Interaksi Tenaga dengan Objek
Intraksi tenaga dengan objek sesuai dengan asas kekekalan tenaga, maka terdapat tiga
interaksi, yaitu dipantulkan, diserap, dan ditransmisiskan/diteruskan.TEM yang sampai ke
permukaan bumi akan berinteraksi dengan segala objek yang ada. Obyek di permukaan bumi
mempunyai karekteristik yang berbeda srtu dengan yang lainnya. Pada citra hitam putih
mempunyai tingkat rona atau kecerahan yang berbeda obyek satu dengan yang lain. 4. Sensor dan wahana
TEM yang dipantulkan obyek di permukaan bumi dapat diterima oleh sensor yang dipasang
dalam wahan tertentu di udara. Ada banyak sensor dengan sifat dan karekteristik masing-
masing. Ada sensor yang dapat menyadap obyek berukuran kecil ( 1 km). Ukuran terkecil yang
dapat disadap oleh sensor dinamakan sebagai resolusi spasial. Resolusi spasial ini merupakan
petunjuk kualitas sensor, semakin kecil obyek yang dapat direkam olehnya, semakin teliti
informasinya.
5. Pengolahan Data
Data penginderaan jauh yang beredar dipasaran pada umumnya merupakan produk standar,
yaitu memiliki kualitas standar. Data dapat dianalisis untuk memenuhi kebutuhan
penggunanaya. Pengolahan data mentah (hasil rekaman sensor yang dikirim ke stasiun
bumi) menjadi produk standar dilakukan oleh operator distasiun bumi atau unit yang
menanganin distribusi produk indereja. 6. Pengguna
Pengguna merupakan komponen terakhir system inderaja, penggunalah yang tahu pasti
tenteng kebenaran, manfaat bahkan seberapa besar ketelitian informasi indera yang dipakainya. Maka
pengguna merupakan penilai sekaligus memberi saran – saran untuklebih menyempurakan system
indera dalam memenuhi kebutuhan penggunannya. Gambar ilustrasi system pengindraan jauh
Resolusi merupakan ukuran kemampuan sensor dalam penginderaan jauh satelit. Dalam suatu
system sensor satelit terdapat empat macam resolusi, yaitu : Resolusi spasial merupakan kemampuan sensor satelit dalam mengindra ukuran terkecil
suatu objek
Resolusi temporal merupakan kemampuan sensor satelit untuk merekam pada tempat
yang sama dalam periode waktu tertentu Resolusi radiomental merupakan kemampuan sensor dalam merekam atau mengindera
perbedaan terkecil suatu objekyang lain (ukuran kepekaan sensor). Resolusi spectral merupakan ukuran kemampuan sensor dalam memisahkan objek pada
beberapa kisran panjang gelombang. C. Perkembangan Sistem Sensor Penerima Data
Perkembangan system pererima data indera dari sensor dengan wahana pesawat terbang ke
wajahana satelit dimulai pasa sekitar pertengahan abad ke- 20. Namum dalam perkembangannya
wahana satelit kini sudah sangat canggih sehingga palayadnya yang dibawahnya pun canggih pula.
Untuk itu berikut uraian singkatnya.
1. Citra Foto Udara
Citra foto udara merupakan produk indera yang pertama kali dibuat dan hingga kini masih
banyak digunakan. Foto udara dibuat dengan sensor berupa kamera yang dipasang pada pesawat
terbang, balon udara, bahkan dengan pesawt terbang tanpa awak (remote control).Untuk
merekam hasil pemotretan digunakan film dan selanjutnya film tersebut di ufdruck / cuci cetak
untuk menghasilkan gambar foto udara. Foto udara dibuat degan berbagai macam skala antara
lain skala 1:3.000, skala 1: 5.000,skala 1: 10.000, skala 1: 25.000, skala 1: 50.000 dan skala 1:100.000.
Sumber :jasafotoudara.indonetwork.co.id
2. Citra satelit
Citra satelit adalah citra yang dihasilkan dari pemotretan menggunakan wahana satelit.
Berikut ini beberapa contoh karekteristik satelit inderaja yang khusus megindera ke bumi untuk
maksud –maksud pengelolalan sumber daya bumi. Peranan citra satelit adalah : Mengetahui
kualitas dan karakteristik lahan serta potensinya ,Menentukan strategi pengembangan wilayah,
Menetapkan teknologi pengelolaannya ,Untuk mendukung identifikasi ketersediaan air irigasi,
Identifikasi dan analisa infrastruktur : jumlah dan panjang jalan, jumlah rumah, luasan
pemukiman, a. LANDSAT (Land satelit)
Satelit Landsat merupakan salah satu satelit sumber daya bumi yang dikembangkan oleh
NASA dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat. Satelit ini terbagi dalam dua generasi
yakni generasi pertama dan generasi kedua. Generasi pertama adalah satelit Landsat 1
sampai Landsat 3, generasi ini merupakan satelit percobaan (eksperimental) sedangkan
satelit generasi kedua (Landsat 4 dan Landsat 5) merupakan satelit operasional (Lindgren,
1985), sedangkan Short (1982) menamakan sebagai satelit penelitian dan pengembangan
(Sutanto, 1994). Satelit generasi pertama memiliki dua jenis sensor, yaitu penyiam multi
spektral (MSS) dengan empat saluran dan tiga kamera RBV (Return Beam Vidicon).Satelit
generasi kedua adalah satelit membawa dua jenis sensor yaitu sensor MSS dan sensor
Thematic Mapper (TM. Resolusi temporal menjadi 16 hari dan perubahan data dari 6 bits (64
tingkatan warna) menjadi 8 bits (256 tingkatan warna).
Kegunaan Citra Satelit LANDSAT adalah untuk pemetaan tanah, pemetaan penutupan
lahan, pemetaan penggunaan lahan. Gambar citra LANDSAT 7
Data penginderaan jauh yang beredar dipasaran pada umumnya merupakan produk standar,
yaitu memiliki kualitas standar. Data dapat dianalisis untuk memenuhi kebutuhan
penggunanaya. Pengolahan data mentah (hasil rekaman sensor yang dikirim ke stasiun
bumi) menjadi produk standar dilakukan oleh operator distasiun bumi atau unit yang
menanganin distribusi produk indereja. 6. Pengguna
Pengguna merupakan komponen terakhir system inderaja, penggunalah yang tahu pasti
tenteng kebenaran, manfaat bahkan seberapa besar ketelitian informasi indera yang dipakainya. Maka
pengguna merupakan penilai sekaligus memberi saran – saran untuklebih menyempurakan system
indera dalam memenuhi kebutuhan penggunannya. Gambar ilustrasi system pengindraan jauh
Resolusi merupakan ukuran kemampuan sensor dalam penginderaan jauh satelit. Dalam suatu
system sensor satelit terdapat empat macam resolusi, yaitu : Resolusi spasial merupakan kemampuan sensor satelit dalam mengindra ukuran terkecil
suatu objek
Resolusi temporal merupakan kemampuan sensor satelit untuk merekam pada tempat
yang sama dalam periode waktu tertentu Resolusi radiomental merupakan kemampuan sensor dalam merekam atau mengindera
perbedaan terkecil suatu objekyang lain (ukuran kepekaan sensor). Resolusi spectral merupakan ukuran kemampuan sensor dalam memisahkan objek pada
beberapa kisran panjang gelombang. C. Perkembangan Sistem Sensor Penerima Data
Perkembangan system pererima data indera dari sensor dengan wahana pesawat terbang ke
wajahana satelit dimulai pasa sekitar pertengahan abad ke- 20. Namum dalam perkembangannya
wahana satelit kini sudah sangat canggih sehingga palayadnya yang dibawahnya pun canggih pula.
Untuk itu berikut uraian singkatnya.
1. Citra Foto Udara
Citra foto udara merupakan produk indera yang pertama kali dibuat dan hingga kini masih
banyak digunakan. Foto udara dibuat dengan sensor berupa kamera yang dipasang pada pesawat
terbang, balon udara, bahkan dengan pesawt terbang tanpa awak (remote control).Untuk
merekam hasil pemotretan digunakan film dan selanjutnya film tersebut di ufdruck / cuci cetak
untuk menghasilkan gambar foto udara. Foto udara dibuat degan berbagai macam skala antara
lain skala 1:3.000, skala 1: 5.000,skala 1: 10.000, skala 1: 25.000, skala 1: 50.000 dan skala 1:100.000.
Sumber :jasafotoudara.indonetwork.co.id
2. Citra satelit
Citra satelit adalah citra yang dihasilkan dari pemotretan menggunakan wahana satelit.
Berikut ini beberapa contoh karekteristik satelit inderaja yang khusus megindera ke bumi untuk
maksud –maksud pengelolalan sumber daya bumi. Peranan citra satelit adalah : Mengetahui
kualitas dan karakteristik lahan serta potensinya ,Menentukan strategi pengembangan wilayah,
Menetapkan teknologi pengelolaannya ,Untuk mendukung identifikasi ketersediaan air irigasi,
Identifikasi dan analisa infrastruktur : jumlah dan panjang jalan, jumlah rumah, luasan
pemukiman, a. LANDSAT (Land satelit)
Satelit Landsat merupakan salah satu satelit sumber daya bumi yang dikembangkan oleh
NASA dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat. Satelit ini terbagi dalam dua generasi
yakni generasi pertama dan generasi kedua. Generasi pertama adalah satelit Landsat 1
sampai Landsat 3, generasi ini merupakan satelit percobaan (eksperimental) sedangkan
satelit generasi kedua (Landsat 4 dan Landsat 5) merupakan satelit operasional (Lindgren,
1985), sedangkan Short (1982) menamakan sebagai satelit penelitian dan pengembangan
(Sutanto, 1994). Satelit generasi pertama memiliki dua jenis sensor, yaitu penyiam multi
spektral (MSS) dengan empat saluran dan tiga kamera RBV (Return Beam Vidicon).Satelit
generasi kedua adalah satelit membawa dua jenis sensor yaitu sensor MSS dan sensor
Thematic Mapper (TM. Resolusi temporal menjadi 16 hari dan perubahan data dari 6 bits (64
tingkatan warna) menjadi 8 bits (256 tingkatan warna).
Kegunaan Citra Satelit LANDSAT adalah untuk pemetaan tanah, pemetaan penutupan
lahan, pemetaan penggunaan lahan. Gambar citra LANDSAT 7
Sumber :geoF2009.blogspot.com
b. Citra Satelit SPOT(Satellite Pour I’Observation de la Terre)
Satelit ini milik Perancis, dengan karekteristik :
Orbit : sinkron putaran matahari
Ketinggian : 832 km Inklasi : 9807’
Spot sudah mengorbitkan 5 buah satelit. SPOT 1,2,3 merupakan seri 1 disusul SPOT-4
merupakan seri II, yang terbaru adalah SPOT-5. Pemerintah Indonesia melalui LAPAN,
telah diberi hak untukmelakukan akuisisi data SPOT-4 melalui satsiun bumi yang
berlokasi di Parepare, Sulawesi selatan.
Sumber : titikcerah.wordpress.com
Saat ini SPOT sudah meluncurkan lagi satelit sumber daya alam yaitu SPOT-5. Pada satelit ini
sensor digunakan lebih baik dibandingkan SPOT sebelumnya.
c. Citra Satelit QUICKBIRD
QUICKBIRD merupakan salah satu satelit sumber daya milik kerja sama Amerika Serikat
dan Hitachi Jepang, yang diluncurkan pada tangggal 18 oktober 2001. Satelit ini memunyai
kemampuan setara dengan QUICKBIRD adalah IKONOS (milik Amerika). Karektirisrik dari satelit
QUICKBIRD adalah :
Orbit : sinkron putaran matahari
Ketinggian : 800 km
Sumber : atlas.blogspot.com
Citra QUICKBIRD membuktikan bahwa kualitas dan teknologi indera di bidang satelit semakin
maju, bahkan bila dibandingkan dengan citra foto udara yang diambil dengan wahana pesawat terbang,
citra QUICKBIRD lebih membetikan informasi. Kegunaan citra QUICKBIRD : Untuk mendukung aplikasi
kekotaan, Pengenalan pola permukiman ,Perluasan daerah terbangun , Menyajikan variasi fenomena
yang terkait dengan kota, Untuk lahan pertanian, terkait dengan umur, kesehatan, dan kerapatan
tanaman semusim, sehingga seringkali dipakai untuk menaksir tingkat produksi secara regional.
d. Citra satelit IKONOS
Ikonos adalah satelit milik Space Imaging (USA) yang diluncurkan bulan September 1999 dan
menyediakan data untuk tujuan komersial pada awal 2000. Ikonos adalah satelit dengan resolusi
spasial tinggi yang merekam data multispektral 4 kanal pada resolusi 4 m (citra berwarna) dan
sebuah kanal pankromatik dengan resolusi 1 m (hitam-putih). Ini berarti Ikonos merupakan
satelit komersial pertama yang dapat membuat image beresolusi tinggi.
b. Citra Satelit SPOT(Satellite Pour I’Observation de la Terre)
Satelit ini milik Perancis, dengan karekteristik :
Orbit : sinkron putaran matahari
Ketinggian : 832 km Inklasi : 9807’
Spot sudah mengorbitkan 5 buah satelit. SPOT 1,2,3 merupakan seri 1 disusul SPOT-4
merupakan seri II, yang terbaru adalah SPOT-5. Pemerintah Indonesia melalui LAPAN,
telah diberi hak untukmelakukan akuisisi data SPOT-4 melalui satsiun bumi yang
berlokasi di Parepare, Sulawesi selatan.
Sumber : titikcerah.wordpress.com
Saat ini SPOT sudah meluncurkan lagi satelit sumber daya alam yaitu SPOT-5. Pada satelit ini
sensor digunakan lebih baik dibandingkan SPOT sebelumnya.
c. Citra Satelit QUICKBIRD
QUICKBIRD merupakan salah satu satelit sumber daya milik kerja sama Amerika Serikat
dan Hitachi Jepang, yang diluncurkan pada tangggal 18 oktober 2001. Satelit ini memunyai
kemampuan setara dengan QUICKBIRD adalah IKONOS (milik Amerika). Karektirisrik dari satelit
QUICKBIRD adalah :
Orbit : sinkron putaran matahari
Ketinggian : 800 km
Sumber : atlas.blogspot.com
Citra QUICKBIRD membuktikan bahwa kualitas dan teknologi indera di bidang satelit semakin
maju, bahkan bila dibandingkan dengan citra foto udara yang diambil dengan wahana pesawat terbang,
citra QUICKBIRD lebih membetikan informasi. Kegunaan citra QUICKBIRD : Untuk mendukung aplikasi
kekotaan, Pengenalan pola permukiman ,Perluasan daerah terbangun , Menyajikan variasi fenomena
yang terkait dengan kota, Untuk lahan pertanian, terkait dengan umur, kesehatan, dan kerapatan
tanaman semusim, sehingga seringkali dipakai untuk menaksir tingkat produksi secara regional.
d. Citra satelit IKONOS
Ikonos adalah satelit milik Space Imaging (USA) yang diluncurkan bulan September 1999 dan
menyediakan data untuk tujuan komersial pada awal 2000. Ikonos adalah satelit dengan resolusi
spasial tinggi yang merekam data multispektral 4 kanal pada resolusi 4 m (citra berwarna) dan
sebuah kanal pankromatik dengan resolusi 1 m (hitam-putih). Ini berarti Ikonos merupakan
satelit komersial pertama yang dapat membuat image beresolusi tinggi.
Kegunaan satelit IKONOS adalah : pemetaan topografi dari skala kecil hingga menengah,
memperbaruhi peta topografi yang sudah ada dan menghasilkan peta baru.
e. Citra Satelit ALOS
Alos adalah Satelit terbesar yang dikembangkan dan diluncurkan oleh JAXA’s Tanegashima Space Center Jepang yang diluncurkan pada tanggal 24 Januari 2006 dengan menggunakan roket H-IIA. Satelit ini didesain untuk dapat beroperasi selama 3 – 5 tahun, dengan membawa 3 sensor, yaitu Panchromatic Remote Sensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) dengan resolusi 2,5 meter, Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) resolusi 10 meter dan Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar(PALSAR) resolusi 10 meter dan 100 meter. Periode kunjungan ulang (re-visiting period) dari sateli ALOS adalah 46 hari, akan tetapi untuk kepentingan pemantauan bencana alam atau kondisi darurat satelit ALOS ini mampu melakukan observasi dalam waktu 2 hari.
memperbaruhi peta topografi yang sudah ada dan menghasilkan peta baru.
e. Citra Satelit ALOS
Alos adalah Satelit terbesar yang dikembangkan dan diluncurkan oleh JAXA’s Tanegashima Space Center Jepang yang diluncurkan pada tanggal 24 Januari 2006 dengan menggunakan roket H-IIA. Satelit ini didesain untuk dapat beroperasi selama 3 – 5 tahun, dengan membawa 3 sensor, yaitu Panchromatic Remote Sensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) dengan resolusi 2,5 meter, Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) resolusi 10 meter dan Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar(PALSAR) resolusi 10 meter dan 100 meter. Periode kunjungan ulang (re-visiting period) dari sateli ALOS adalah 46 hari, akan tetapi untuk kepentingan pemantauan bencana alam atau kondisi darurat satelit ALOS ini mampu melakukan observasi dalam waktu 2 hari.
Sumber : http://www.lapanrs.com/
f. Citra Satelit Aster ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) adalah
instrumen / sensor yang dipasang pada satelit Terra, yang diluncurkan pada Desember 1999,
dimana ini merupakan bagian dari NASA’s Earth Observing System (EOS) bekerja sama dengan
Jepang dalam memecahkan persoalan yang menyangkut SDA dan lingkungan. Proyek ini
didukung sepenuhnya oleh para ilmuwan Jepang dan Amerika Serikat dari beragam keilmuan
diantaranya : geologi, meteorologi, pertanian, kehutanan, studi lingkungan, gunung berapi, dan
lain – lain.
Adapun karakteristik sekilas mengenai citra ASTER adalah sebagai berikut : – Observasi pada 3 VNIR, 6 SWIR, 5 TIR bands atau bekerja dengan 14 bands atau dapat
merekam data citra permukaan bumi dari panjang gelombang daerah visible (sinar
tampak) ke daerah thermal infrared. Sehingga dapat disimpulkan bahwa citra ASTER
mampu merekam data citra di permukaan bumi dari panjang gelombang daerah visible (
sinar tampak ) ke daerah infrared thermal. – Stereoskopik data dapat diperoleh dengan single orbit. – Resolusi spasial citra ASTER adalah 15m untuk VNIR, 30m untuk SWIR, dan 90 m untuk TIR. – Sensor optik dengan resolusi geometric dan radiometric yang tinggi pada semua frekuensi
channel. Dengan melihat karakteristik di atas, penggunaan citra ASTER dapat memenuhi
kebutuhan para pengguna / user data dalam bidang lingkungan dan sumberdaya alam
(SDA).
Pemanfaatan citra ASTER adalah untuk memonitoring permukaan bumi, baik dalam bidang
pertanian, pertambangan, meteorologi, dan lain sebagainya yang erat kaitannya dengan monitoring
sumber daya alam ( SDA).
Gambar citra ASTER
Sumber : Bhian Rangga JR.com
g. Satelit Citra NOAA (National Oceanic and Atmosphric Administrastion )
National Oceanic and Atmospheric Administration. Satelit berorbit sinkron matahari milik
NOAA, Amerika Serikat yang misi utamanya adalah pemantauan cuaca. Satelit NOAA
dikembangkan dari seri satelit TIROS (Television and Infrared Observation ). Satelit TIROS
kemudian digantikanmenjadi TOS (TIROS Operational System) yang kemudian menjadi seri ESSA
(Environmental Science Service Administration). ESSA kemudian dikembangkan menjadi seri
ITOS (Improved TIROS Operational System) disusul seri NOAA. Seri satelit NOAA terdiri dari
generasi I (TIROS-N/NOAA 1-5), generasi II (Advanced TIROS-N/ATN/NOAA 6-14) dan generasi III
(NOAA K, L, M). Pengindera yang diusung satelit ini pada umumnya adalah AVHRR
(pengembangan dari VHRR) dan TOVS (TIROS Operational Vertical Sounder). Setiap satelit
biasanya juga masih mendapatkan tambahan perangkat pengindera lain sesuai dengan misi.
Karekteristik satelit citra NOAAH :
Dimensi : Tinggi : 165 in (4,19m),Diameter : 74 in (1,88m),Solar array area : 180,6
ft² (16,8m²)
Berat : 4920 lbs (2231,7 kg)
Orbit : Ketinggian: 870 km , Kemiringan: 98,856˚ Waktu Matahari Lokal : 13:40
Rata-rata Ketinggian: 870 Km
Gambar citra satelit NOOA
Kegunaan citra NOAA : Membuat Peta Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature
maps/SST Maps) , Monitoring iklim ,Studi El Nino ,Deteksi arus laut untuk memandu kapal- kapal pada
dasar laut dengan ikan berlimpah.
f. Citra Satelit Aster ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) adalah
instrumen / sensor yang dipasang pada satelit Terra, yang diluncurkan pada Desember 1999,
dimana ini merupakan bagian dari NASA’s Earth Observing System (EOS) bekerja sama dengan
Jepang dalam memecahkan persoalan yang menyangkut SDA dan lingkungan. Proyek ini
didukung sepenuhnya oleh para ilmuwan Jepang dan Amerika Serikat dari beragam keilmuan
diantaranya : geologi, meteorologi, pertanian, kehutanan, studi lingkungan, gunung berapi, dan
lain – lain.
Adapun karakteristik sekilas mengenai citra ASTER adalah sebagai berikut : – Observasi pada 3 VNIR, 6 SWIR, 5 TIR bands atau bekerja dengan 14 bands atau dapat
merekam data citra permukaan bumi dari panjang gelombang daerah visible (sinar
tampak) ke daerah thermal infrared. Sehingga dapat disimpulkan bahwa citra ASTER
mampu merekam data citra di permukaan bumi dari panjang gelombang daerah visible (
sinar tampak ) ke daerah infrared thermal. – Stereoskopik data dapat diperoleh dengan single orbit. – Resolusi spasial citra ASTER adalah 15m untuk VNIR, 30m untuk SWIR, dan 90 m untuk TIR. – Sensor optik dengan resolusi geometric dan radiometric yang tinggi pada semua frekuensi
channel. Dengan melihat karakteristik di atas, penggunaan citra ASTER dapat memenuhi
kebutuhan para pengguna / user data dalam bidang lingkungan dan sumberdaya alam
(SDA).
Pemanfaatan citra ASTER adalah untuk memonitoring permukaan bumi, baik dalam bidang
pertanian, pertambangan, meteorologi, dan lain sebagainya yang erat kaitannya dengan monitoring
sumber daya alam ( SDA).
Gambar citra ASTER
Sumber : Bhian Rangga JR.com
g. Satelit Citra NOAA (National Oceanic and Atmosphric Administrastion )
National Oceanic and Atmospheric Administration. Satelit berorbit sinkron matahari milik
NOAA, Amerika Serikat yang misi utamanya adalah pemantauan cuaca. Satelit NOAA
dikembangkan dari seri satelit TIROS (Television and Infrared Observation ). Satelit TIROS
kemudian digantikanmenjadi TOS (TIROS Operational System) yang kemudian menjadi seri ESSA
(Environmental Science Service Administration). ESSA kemudian dikembangkan menjadi seri
ITOS (Improved TIROS Operational System) disusul seri NOAA. Seri satelit NOAA terdiri dari
generasi I (TIROS-N/NOAA 1-5), generasi II (Advanced TIROS-N/ATN/NOAA 6-14) dan generasi III
(NOAA K, L, M). Pengindera yang diusung satelit ini pada umumnya adalah AVHRR
(pengembangan dari VHRR) dan TOVS (TIROS Operational Vertical Sounder). Setiap satelit
biasanya juga masih mendapatkan tambahan perangkat pengindera lain sesuai dengan misi.
Karekteristik satelit citra NOAAH :
Dimensi : Tinggi : 165 in (4,19m),Diameter : 74 in (1,88m),Solar array area : 180,6
ft² (16,8m²)
Berat : 4920 lbs (2231,7 kg)
Orbit : Ketinggian: 870 km , Kemiringan: 98,856˚ Waktu Matahari Lokal : 13:40
Rata-rata Ketinggian: 870 Km
Gambar citra satelit NOOA
Kegunaan citra NOAA : Membuat Peta Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature
maps/SST Maps) , Monitoring iklim ,Studi El Nino ,Deteksi arus laut untuk memandu kapal- kapal pada
dasar laut dengan ikan berlimpah.
Sumber : Jensen, 2000
DAFTRA PUSTAKA
Dewi, Mustika. 2013. “Pengolahan Citra Digital”, dalam
http://mustikadewi51.blogspot.com/2013/04/macam-macam-citra-satelit-dan-
fungsinya.html. Diunduh Rabu, 4 september 2013.
Hidayat, Nur. 2007. Penginderaan Jauh dan Interperetasi citra. Universitas Negri Semarang : Semarang.
Hardika, Edwin Putr. 2001. Penginderaan Jauh dengan ERMapper. Graha ilmu : Yogyakarta.
JR, Bhian Rangga.2010. Pemanfaatan citra Penginderaan Jauh. FKIP UNS: Semarang.
Mahturai. 2009.”Sekilas tentang Citra Alos dan Aster”,dalam http://angkringangis.multiply.com/. Diunduh
Rabu 4 september 2013.
Soenarmo, Sri Hartati.2009. Penginderaan Jauh dan Penegnalan Sistem Informasi Geogrfais untuk bidang
ilmu kebumian. ITB Bandung : Bandung
https://lubisefridahafny.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar