Laman

Kamis, 24 Maret 2016

SATELIT ASTER


Satelit ASTER (advanced spaceborne emission and reflecton radiometer)
Description: Salah satu contoh citra satelit ASTER
Satelit yang dikembangkan negara jepang dimana sensor yang dibawa terdiri dari VNIR, SWIR, dan TIR. Satelit ini memiliki orbit sunshyncronus yaitu orbit satelit yang menyelaraskan pergerakan satelit dalam orbit presisi bidang orbit dan pergerakan bumi mengelilingi matahari, sedemikian rupa sehingga satelit tersebut akan melewati lokasi tertentu di permukaan bumi selalu pada waktu lokal yang sama setiap harinya. Ketinggian orbitnya 707 km dengan sudut inklinasi 98,2 derajat.


A.    SEJARAH
         ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) adalah instrumen/sensor yang dipasang pada satelit Terra, yang diluncurkan pada Desember 1999, peralatan tersebut telah mengumpulkan data sejak Februari 2000, merupakan bagian dari NASA Earth Observing System (EOS) yang bekerja sama dengan Jepang. ASTER digunakan untuk pemetaan temperatur permukaan bumi, emisivitas, reflektansi dan elevasi.Platforms  EOS adalah bagian dari NASA Earth Science Enterprise, dimana lembaga ini merupakan lembaga untuk penelitian biosfer, hidrosfer, litosfer dan atmosfer.
B.     PENGERTIAN
         ASTER adalah salah satu citra yang mempunyai resolusi tinggi untuk observasi permukaan lahan, air, dan awan dari panjang gelombang tampak hingga inframerah thermal untuk studi klimatologi, hidrologi, biologi, and geologi. ASTER sendiri terdiri dari tiga subsistem, yaitu: VNIR, SWIR, TIR. VNIR memiliki 3 channel di gelombang visible dan inframerah dekat dengan resolusi spasial 15 m. SWIR mempunyai 6 channel dalam shortwave IR dengan resolusi spasial  30 m. TIR mempunyai 5 channel dalam thermal IR dengan resolusi spasial  90 m. Lebar liputan ASTER yaitu 60 km, sehingga memungkinkan untuk membuat DEM.
         Berikut adalah tabel resolusi spektral pada band yang ada di ASTER:

Proyeksi ASTER dibawah payung Earth Observing System (EOS) bertujuan untuk melakukan observasi permukaan bumi dalam rangka monitoring lingkungan hidup secara global dan penginderaan sumber daya alam. Sensor ASTER yang dikembangkan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang, merupakan salah satu sensor yang terpasang dalam satelit Terra yang diluncurkan pada 18 Desember 1999. Ground resolution ASTER adalah lebih tinggi dibandingkan dengan LANDSAT – TM, demikian juga untuk spectral resolution yang tinggi dengan 5 thermal-infrared band dan 6 short wave-infrared bands, serta kualitas fungsi stereoskopis yang lebih tinggi dibandingkan satelit sebelumnya, JERS – 1. 
Pada Juni 2009, Global Digital Elevation Model telah dirilis ke publik. Global Digital Elevation Model yang merupakan kerjasama antara NASA dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, adalah pemetaan komplit dari permukaan bumi, mencakup 99% permukaan bumi. Peta teranyar NASA yang sebelumnya, Shuttle Radar Topography Mission, hanya mencakup sekitar 80% area permukaan bumi. Peta ASTER mencakup area permukaan bumi 83 derajat lintang utara dan 83 derajat lintang selatan. Peta ini dibuat dengan menyatukan 1,3 juta gambar optis yang diambil ASTER, dengan pengukuran ketinggian daratan secara global dengan interval 30 meter.
C.    SPEKULASI ASTER
            Sensor Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer – ASTER merupakan peningkatan dari sensor yang dipasang pada satelit generasi sebelumnya, JERS – 1. Sensor ini terdiri dari Visible and Near-Infrared Radiometer (VNIR), Short Wavelength Infrared Radiometer (SWIR), Thermal Infrared Radiometer (TIR), Intersected Signal Processing Unit dan Master Power Unit.
            VNIR merupakan high performance dan high resolution optical instrument yang digunakan untuk mendeteksi pantulan cahaya dari permukaan bumi dengan range dari level visible hingga infrared (520 – 860 µm) dengan 3 bands. Dimana band nomor 3 dari VNIR ini merupakan nadir dan backward looking data, sehingga kombinasi data ini dapat digunakan untuk mendapatkan citra stereoskopis. Digital Elevation Model (DEM) dapat diperoleh dengan mengaplikasikan data ini, sehingga data ini tidak hanya untuk peta topografik saja, tetapi bisa juga digunakan sebagai citra stereo.
            SWIR merupakan high resolution optical instrument dengan 6 bands yang digunakan untuk mendeteksi pantulan cahaya dari permukaaan bumi dengan short wavelength infrared renge (1,6 – 2,43 µm). Penggunaan radiometer ini memungkinkan menerapkan ASTER untuk identifikasi jenis batu dan mineral, serta untuk monitoring bencana alam seperti monitoring gunung berapi yang masih aktif.
            TIR adalah high accuracy instrument untuk observasi thermal infrared radiation (800 – 1200 µm) dari permukaan bumi dengan menggunakan 5 bands. Band ini dapat digunakan untuk monitoring jenis tanah dan batuan di permukaan bumi. Multi-band thermal infrared sensor dalam satelit ini adalah pertama kali di dunia. Ukuran citra adalah 60 km dengan ground resolution 90 m.
Karakteristik utama dari sensor ASTER ini adalah sebagai berikut :
Ø  Observasi pada 3 VNIR, 6 SWIR, 5 TIR bands atau bekerja dengan 14 bands atau dapat merekam data citra    permukaan bumi dari panjang gelombang daerah visible (sinar tampak) ke daerah thermal infrared.
Ø  Stereoscopic data dapat diperoleh dengan single orbit.
Ø  Space resolutions: 15m untuk VNIR, 30m untuk SWIR, dan 90m untuk TIR.
Ø  Vertical pointing function: ± 24 derajat untuk VNIR, ± 8.55 derajat untuk SWIR, ± 8.55 derajat untuk TIR.
Ø  Sensor optic dengan resolusi geometric dan radiometric yang tinggi pada semua frekuensi chanal. Sehingga karakteristik ini dapat memenuhi kebutuhan para pengguna / user data dalam bidang lingkungan dan sumberdaya alam (SDA).


Tabel 9. Karakteristik Sensor Citra ASTER
Characteristic
VNIR
SWIR
TIR
Spectral range
Band 1: 0.52 – 0.60 µm
Nadir looking

Band 2: 0.63 – 0.69 µm
Nadir looking

Band 3: 0.76 – 0.86 µm
Nadir looking

Band 3: 0.76 – 0.86 µm
Backward looking
Band 4: 1.600 – 1.700 µm

Band 5: 2.145 – 2.185 µm

Band 6: 2.185 – 2.225 µm

Band 7: 2.235 – 2.285 µm

Band 8: 2.295 – 2.365 µm

Band 9: 2.360 – 2.430 µm
Band 10: 8.125 – 8.475 µm

Band 11: 8.475 – 8.825 µm

Band 12: 8.925 – 9.275 µm

Band 13: 10.25 – 10.95 µm

Band 14: 10.95 – 11.65 µm
Ground Resolution
15 m
30 m
90 m
Data Rate (Mbits/sec)
62
23
4.2
Cross-track Pointing (deg)
±24
±8.55
±8.55
Cross-track Pointing (km)
±318
±116
±116
Swath Width (km)
60
60
60
Detector Type
Si
PtSi-Si
Hg Cd Te
Quantization (bits)
8
8
12
Orbit
Sinkron Matahari
Local time
10.30 : AM
Ketinggian
700 – 737 km (707 km di khatulistiwa)
Orbit inclination
98.2°
Recurrence cycle
16 hari
Cycle
98.88 menit

Berikut adalah perbandingan band dalam Citra ASTER 14 band dengan Citra Landsat 7/8 band.
ASTER
bands
Spektrum
(mikrometer)
Landsat TM
bands
Spektrum
(mikrometer)
                                
                            
1
0.450 - 0.515
1 (VNIR)
0.520 - 0.600
2
0.525 - 0.605
2 (VNIR)
0.630 - 0.690
3
0.630 - 0.690
3 (VNIR)
0.760 - 0.860
4
0.750 - 0.90
4 (SWIR)
1.600 - 1.700
5
1.550 - 1.750
5 (SWIR)
2.145 - 2.185
7
2.090 - 2.350
6 (SWIR)
2.185 - 2.225
7 (SWIR)
2.235 - 2.285
8 (SWIR)
2.295 - 2.365
9 (SWIR)
2.360 - 2.430
10 (TIR)
8.125 - 8.475
                             
                                
11 (TIR)
8.475 - 8.825
12 (TIR)
8.925 - 9.275
13 (TIR)
10.25 - 10.95
6
10.400 - 12.500
14 (TIR)
10.95 - 11.65
Jenis data lengkap yang dapat diperoleh dari citra TERRA/ASTER ditunjukkan dalam daftar di bawah ini. TERRA/ASTER mempunyai informasi lengkap dari citra optik biasa hingga Digital Terrain Model (DTM).



Nama produk
Keterangan
Resolusi
Level 1A
Produk ini adalah data mentah langsung dari satelit. Koefisien kalibrasi radiometrik dan koreksi geometrik terlampir, tetapi tidak diterapkan dalam data. Produk ini tidak disesuaikan pada proyeksi peta tertentu.
V(15m)
S(30m)
T(90m)
Level 1B
Produk ini hasil proses penerapan koefisien koreksi radiometrik dan geometrik yang terlampir pada data level 1A. Pada produk ini juga diterapkan metoda proyeksi peta dalam proses L1B. Dari produk ini dapat diperoleh informasi fisik seperti radiance dan temperatur dengan menggunakan nilai digital (DN) dalam data.
V(15m)
S(30m)
T(90m)
Relative Spectral Emissivity (2A02)
Produk ini merupakan data hasil decorrelation stretched dari data ASTER TIR. Produk ini menunjukkan variasi emisi yang diperkuat (enhanced emissivity variations) yang diturunkan dari range TIR lemah.
90m
Relative Spectral Reflectance VNIR (2A03V)
Produk ini merupakan data hasil decorrelation stretched data ASTER VNIR untuk variasi pantulan yang diperkuat (enhance reflectance variations)
15m
Relative Spectral Reflectance SWIR (2A03S)
Produk ini merupakan data hasil decorrelation stretched data ASTER SWIR untuk variasi pantulan yang diperkuat (enhance reflectance variations)
30m
Surface Radiance VNIR (2B01V)
Produk ini dihasilkan melalui penerapan koreksi atmosfir kepada data ASTER VNIR.
15m
Surface Radiance SWIR (2B01S)
Produk ini dihasilkan melalui penerapan koreksi atmosfir kepada data ASTER SWIR.
30m
Surface Radiance TIR (2B01T)
Produk ini dihasilkan melalui penerapan koreksi atmosfir kepada data ASTER TIR.
90m
Surface Reflectance VNIR (2B05V)
Produk ini berisi pantulan permukaan (surface reflectance) yang diperoleh dari radiance terhadap ASTER VNIR setelah penerapan koreksi atmosfir.
15m
Surface Reflectance SWIR (2B05S)
Produk ini berisi pantulan permukaan (surface reflectance) yang diperoleh dari radiance terhadap ASTER SWIR setelah penerapan koreksi atmosfir.
30m
Surface Temperature (2B03)
Produk ini berisi temperatur permukaan dari 5 (lima) band thermal infra merah ASTER yang dihitung menggunakan temperature-emissivity-separation terhadap data radiance permukaan TIR (2B01T) yang sudah terkoreksi atmosfir.
T(90m)
Surface Emissivity (2B04)
Produk ini berisi emisi permukaan dari 5 (lima) band thermal infra merah ASTER yang dihitung menggunakan temperature-emissivity-separation terhadap data radiance permukaan TIR (2B01T) yang sudah terkoreksi atmosfir.
T(90m)
Orthographic Image (3A01)
Produk ini adalah data orthografik ASTER yang dihasilkan dari data relatif DEM (4A01), dan bebas dari distorsi geografik karena perbedaan ketinggian. Data ketinggian untuk posisi geografis pada setiap pixel juga terlampir.
V(15m)+DTMS(30m)+DTMT(90m)+DTM
Relative DEM Z (4A01Z)
Produk ini diperoleh dari data ketinggian yang diturunkan dari data stereoskopik. Dimana data stereoskopik ini diperoleh dari band VNIR 3N (nadir looking) dan 3B (backward looking).
Z (30m)

D.    SPEKTRUM CITRA ASTER

a.      Penerapan Citra ASTER
  • Klimatologi Permukaan Lahan
Penelitian parameter permukaan lahan, temperatur permukaan, dan lain-lain, untuk memahami interaksi permukaan lahan dan energi dan perubahan-perubahan kelembaba
  • Dinamika Vegetasi dan ekosistem   
penelitian persebaran vegetasi dan tanah dan perubahannya untuk mengestimasi produktivitas secara biologi, untuk memahami tentang interaksi lahan-atmosfer dan mendeteksi perubahan ekosistem
  • Hidrologi
Mempelajari energi global dan proses hidrologi dan hubungannya dengan perubahan global, termasuk evapotranspirasi tanaman
  • Perubahan Permukaan Lahan dan Penutup Lahan
Monitoring kekeringan, deforestasi, urbanisasi, memperoleh data untuk monitoring konservasi pada area suaka, tanam nasional, dan area hutan belantara.

·         Karakteristik spektral terhadap mineral dan batuan
Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam, sehingga memerlukan penanganan tersendiri agar dalam proses pengelolaan sumber alam tersebut tidak menimbulkan pengaruh negatif atau efek sampingan terhadap alam dan lingkungan, khususnya terhadap mahluk hidup di atasnya termasuknya manusia. Penanganan yang terencana dengan baik akan menghasilkan hasil olah yang baik pula. Citra TERRA/ASTER diharapkan dapat memberikan bantuan solusi untuk proses persiapan pengolahan (penambangan) hingga proses paska penambangan. Citra satelit ini mempunyai 14 channel yang masing-masing mempunyai fungsi tersendiri dalam proses analisa citra satelit. Contoh penerapannya untuk pemetaan sifat spectral berdasarkan penyerapan mineral tanah liat di daerah pertambangan Escondida selatan, Chili.
·         Klasifikasi jenis tanah
Citra TERRA/ASTER dapat pula digunakan untuk memetakan jenis tanah, khususnya untuk keperluan pertanian, khususnya untuk perencanaan tata ruang dan tata kota.
·          Monitoring aktifitas gunung berapi
Sensor VNIR dan SWIR dapat diterapkan untuk mengetahui aktifitas gunung, sehingga kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh bencana alam ini dapat dihindari atau dikurangi. Sensor TIR dapat digunakan untuk mengetahui distribusi awan panas yang dikeluarkan oleh gunung, dimana sensor ini dapat dioperasikan utk siang dan malam hari.
·         Pemetaan tumbuhan di daerah kering dan basah
Seperti halnya satelit lain (JERS-1 dan Landsat), citra TERRA/ASTER dapat pula digunakan untuk memetakan distribusi tumbuhan di permukaan bumi, terutama untuk daerah kering dan basah dengan menggunakan sensor VNIR dan SWIR.
·          Monitoring suhu permukaan laut
Distribusi temperature permukaan laut dapat diperoleh dengan mudah menggunakan citra TERRA/ASTER, atau langsung dengan menggunakan citra sensor TIR. Aplikasi dari citra ini dapat digunakan untuk mengetahui distribusi panas air laut, dimana informasi ini dapat diterapkan untuk mengetahui fenomena kelautan, termasuk distribusi tumbuhan dan ikan.
·          Monitoring hutan bakau (mangrove)
Pengrusakan hutan bakau, baik secara sengaja maupun pengaruh perubahan alam, dapat dideteksi dengan menggunakan citra TERRA/ASTER. Beberapa sensor satelit ini mempunyai kesamaan dengan JERS-1 maupun Landsat, oleh karena itu kombinasi citra satelit lain dapat digunakan untuk monitoring hutan bakau dan hutan lainnya.
·          Produk ASTER ortho dan DEM-Z
Satelit TERRA/ASTER juga dapat menghasilkan data ketinggian permukaan bumi (DEM) seperti contoh pada gambar 11 yang menunjukkan hasil data DEM-Z yang dioverlay dengan citra optik wilayah Bandung dan sekitarnya.


·          Monitoring kebakaran hutan
Citra TERRA/ASTER dapat memonitor area kebakaran hutan, dimana VNIR menghasilkan liputan wilayah bakar dan kumpulan asap yang dihasilkan oleh kebakaran tsb, SWIR menunjukkan distribusi temparature wilayah bakar, dan TIR menunjukkan distribusi lahan bakar berdasarkan intensitas suhu permukaan lahan bakar. Warna merah dan biru yang terdapat dalam gambar menunjukkan distribusi suhu tinggi dan rendah.
·         Monitoring suhu permukaan tanah
Distribusi permukaan bumi dapat diturunkan dengan mudah menggunakan data VNIR dan TIR citra TERRA/ASTER. Penerapan proses ini dapat digunakan untuk mengetahui fenomena pemanasan yang terjadi di daerah perkotaan.
·         Korelasi DEM
Data DEM yang diturunkan dari citra TERRA/ASTER (Level 1) dapat diperoleh informasi kontur permukaan bumi, dimana informasi ini dapat diterapkan untuk berbagai macam bidang, misalnya pertambangan, pembangkit listrik, perencanaan dam atau bendungan, penanggulangan banjir dan lain-lain. Contoh software yang dapat dipergunakan untuk membuat DEM atau TM dari citra ASTER adalah PCI Geomatics.













DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Taufik Heri., Like Indrawati. 2007. Petunjuk Praktikum Sistem Penginderaan jauh Non Fotografi. Yogyaka :  Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada
Indrawati, Like. 2009. Handout: Satelit ASTER. Yogyakarta :  Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada
White, Ben. 2004. ASTER Technical Guide. Maryland: Institute of Advance Computer Studies and Department of Geography. University of Maryland
Indrawati, Like. 2009. Handout: Satelit Landsat. Yogyakarta :  Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada
Taylor, Michael P. Landsat Handbook. Sigma Space Corp: NASA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar