Dalam bahasa arab disebut اِسْم yang dimana diartikan dalam Bahasa Indonesia artinya "nama". Didalam KBBI diartikan Nama adalah sebutan atau label yang diberikan kepada benda, manusia, tempat, produk (misalnya merek produk) dan bahkan gagasan atau konsep, yang biasanya digunakan untuk membedakan satu sama lain. Nama dapat dipakai untuk mengenali sekelompok atau hanya sebuah benda dalam konteks yang unik mapun yang diberikan.
Penamaan
Dalam KBBI diartikan bahwa penamaan ialah suatu proses, cara, pembuatan nama kepada sesuatu.
Penamaan atau pemberian nama merupakan salah satu kejadian terpenting dalam kehidupan setiap manusia baru
Dalam Hadist Nabi Muhammad diceritakan Tentang pemberian Nama :
Hadis Pemberian Nama Bayi
حدثنا أبو داود قال حدثنا قيس عن أبي إسحاق قال سمعت هاني بن هاني يحدث عن علي قال : لما ولد الحسن بن علي قلت سموه حربا وقد كنت أحب أن اكتني بأبي حرب فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم فدعا به قلنا سميناه حربا قال رسول الله صلى الله عليه و سلم بل هو الحسن فلما ولد الحسين سميناه حربا فجاء النبي صلى الله عليه و سلم فقال ما سميتموه قلنا حربا قال رسول الله صلى الله عليه و سلم هو حسين (مسند الطيالسي)
Telah menceritakan pada kami Abu Dawud, telah menceritakan pada kami Qais dari Abi Ishaq berkata saya mendengar Hani b. Hani menceritakan dari Ali berkata: tatkala Hasan b. Ali dilahirkan saya berkata namanya harban sungguh saya ingin menuliskannya menjadi Abi Harb, maka Rasulullah Saw datang: tetapi ia al-Hasan. (tahun berkutnya) ketika al-Husain dilahirkan saya memberikannya nama harba maka datang Rasulullah Saw, dan berkata siapa namanya ?, kami mengatakan: Harban, maka Rasulullah Saw bersabda: tetapi ia Husain. (Musnad al-Thayalisi)
A. Identitas Hadis.
Hadis ini secara teks (matan) bervariasi dalam berbagai kitab Hadis. Dalam pembahasan ini pembahas hanya mengutip Hadis dalam kitab Musnad Thayalisi. Hadis ini diberitakan dari Ali b. Abi Thalib pada Rasulullah Sawm jadi Hadisi ini tergolong Hadis marfu’ .
B. Pembahasan Hadis.
Hadisi ini menceritakan tentang pemberian nama yang baik bagi bayi. Hasan dan Husen adalah nama cucuk Nabi Saw, perkawinan dari Ali b. Abi Thalib dengan Fatimah (anak Nabi), semula anaknya diberi nama al-Harb oleh bapaknya tetapi Rasulullah Saw menganti namanya menjadi Hasan. Kemudian pada tahun berikutnya lahir Husen yang sebelumnya hendak diberi nama harb lagi oleh Ali tetapi sekali lagi Rasulullah mengubahnya menjadi Husen.
1. Awal Penamaan Hasan dan Husen
Arti kata Hasan secara bahasa berarti baik atau tampan dan Husen berarti baik atau tampan yang kedua. Sedangkan Harb berarti perang. Inilah sebabnya Rasulullah Saw menginginkan nama cucunya yang pertama dari Fatimah bernama Hasan dan yang kedua bernama Husen. Walapun mungkin saja yang dimaksudkan oleh Ali b. Abi Thalib anakanya diberi nama Harb agar kuat, gagah dan pemberani. Walaupun demikian, Rasulullah Saw menginginkan nama tersebut menjadi Hasan dan Husen sebab nama tersebut lebih baik dan bagus.
2. Hukum Memberi Nama Anak
Memberikan nama yang baik-baik pada anak adalah wajib sebab nama itu sendiri sebenarnya adalah doa dan harapan. Jadi, jika nama yang diberikan bermakna baik-baik maka ini sebenarnya memberikan harapan agar anak tersebut tumbuh dewasanya nanti menjadi baik-baik juga sesuai dengan identitas nama yang ia pakai.
Tetapi permasalahannya adalah, apakah ada jaminan nama seseorang dengan sifat dan sikap orang tersebut. Bagaimana dengan nama orang yang bagus-bagus tetapi sikap dan perbuatannya mencerminkan perbuatan yang tidak baik. Sebenarnya ada jaminan bahkan hubungan antara nama nama seseorang dengan sikap dan perbutannya, jaminanan tersebut akan dapat dilakukan jika sejak dini orang tua menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam nama yang diberikan tersebut dalam kehidupan keseharian. Akan tetapi jika tidak dilakukan maka tidak ada ikatan emosional antara nama yang dimiliki dengan sikapnya. Keadaan yang terjadi sekarang ialah nama diberi pada anak hanya sebatas identitas formalitas belaka tetapi tindak lanjut dari penanaman makna yang terkandung dalam nama yang diberikan dalam kehidupan keseharian.
Jika suatu saat ditemukan seseorang yang merubah namanya sebab malu atau tidak sesuai dengan keadaan pekerjaanya seperti bekerja di tempat-tempat maksiat dan tempat yang bertentangan dengan semangat syariat, maka ini menunjukkan bahwa tidak ada ikatan emosinal antara nama yang diberikan orang tuanya dengan perilakunya sehingga ia mau merubahnya.
Sedangkan memberikan nama yang bermakna tidak baik, hal ini tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, walaupun anam tersebut terdapat dalam bahasa Arab, Hadis atau ayat. Seperti nama dhalimah (zalim), Ma’asyiah (maksiat/dosa) dan lain sebagainya.
Dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian nama kepada seorang bayi, ialah bertujuan untuk dapat menerima atau pun tertutur dari sebuah nama yang diberikan kepada seorang bayi tersebut untuk menjadi tauladan yang baik dari sebuah rujukan nama tersebut, seperti nama Muhammad yan g dimana seorang orangtua berharap bahwa anaknya bisa meniru suri tauladan dari seorang Nabi. Atau Umar dimana orang tua mengharapkan anaknya seperti sohabat Umar Bin Khattab yang sederhana dan pemberani. Oleh karena itu, pemberian nama sangat sakral dalam suatu kehidupan seseorang.
Di Jawa acara penamaan biasanya bersamaan dengan Upacara adat Sepasaran atau Pupuk Pusar, Sepasaran merupakan salah satu upacara adat bagi bayi berumur lima hari. Upacara ini umumnya diselengarakan secara sederhana, tetepi jika bersamaan dengan pemberian nama pada si bayi upacara ini bisa dilakukan secara meriah. Upacara ini diselenggarakan dengan mengadakan kenduri atau selamatan yang dihadiri oleh kerabat dan tetangga terdekat. Sesajian (makanan) yang disediakan dalam upacara puputan antara lain nasi gudangan yang terdiri dari nasi dengan lauk pauk, sayur-mayur dan parutan kelapa, bubur merah, bubur putih dan jajan pasar.
Upacara puputan biasanya ditandai dengan dipasangnya sawuran (bawang merah, dlingo bengle yang dimasukkan ke dalam kupat), dan aneka macam duri kemarung di sudut-sudut kamar bayi.
Selain sawuran dipasang juga daun nanas yang diberi warna hitam putih bergaris-garis, daun apa-apa, awar-awar, girang, dan duri kemarung. Di halaman rumah dipasang tumbak sewu, yaitu sapu lidi yang didirikan dengan tegak. Di tempat tidur si bayi diletakkan benda-benda tajam seperti pisau dan gunting.
Dalam upacara puputan atau dhautan terdapat makna atau lambang yang tersirat, antara lain sebagai berikut :
- Nasi gudangan mengandung makna kesegaran jasmani dan rohani sang bayi.
- Jajan pasar melambangkan kekayaan untuk si bayi.
- Duri dan daun-daunan berduri (duri kemarung dipasang di penjuru rumah mengandung maksud agar dapat menolak gangguan bencana gaib dari makhluk halus jahat.
- Coreng-coreng hitam dan putih pada ambang pintu untuk menolak pengaruh jahat yang akan masuk melalui pintu.
- Daun nanas yang diolesi hitam dan putih menyerupai ular welang mengandung makna magis yang mampu menakut-nakuti makhluk halus jahat yang hendak memasuki kamar bayi.
- Dedaunan apa-apa, awar-awar, dan girang memiliki makna agar kelahiran tidak mengalami suatu gangguan (apa-apa), semua kekuatan jahat menjadi tawar (awar-awar), dan seluruh keluarga akan bergembira (girang).
- Pisang raja melambangkan agar si bayi kelak berbudi luhur atau memiliki derajat mulia.
- Tumbak sewu (sapu lidi yang diberi bawang dan cabai) memiliki makna untuk menolak makhluk gaib jahat supaya tidak mengganggu keselamatan sang bayi.
Rangkaian upacara puputan dimulai dengan upacara sepasar. Sepasar merupakan satu rangkaian hari dalam kalender Jawa yang berumur 5 hari, yaitu pon, wage, kliwon, legi, dan pahing. Upacara sepasaran merupakan upacara yang menandakan bayi telah berumur sepasar (5 hari). Sebagian masyarakat mengadakan upacara sepasaran dengan sederhana, yaitu mengadakan kenduri atau selamatan dan dihadiri oleh keluarga dan tetangga terdekat. Setelah acara kenduri, tetangga yang menghadiri acara selamatan akan membawa pulang makanan yang disediakan oleh tuan rumah.
Namun di beberapa daerah di Jawa upacara sepasaran dianggap merupakan upacara yang paling meriah dalam rangkaian upacara kelahiran anak. Upacara sepasaran tersebut diadakan secara besar-besaran sesuai kemampuan keluarga masing-masing dan biasanya disertai dengan pemberian nama sang bayi. Meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam pelaksanaannya. Upacara sepasaran tidak memiliki aturan mengikat, yang utama adalah diadakan setelah bayi berumur lima hari.
Ada sebagian masyarakat yang tidak merayakan upacara sepasaran secara meriah. Namun, biasanya upacara selapanan diselenggarakan dengan meriah. Selapanan menandakan bahwa sang bayi telah berumur 35 hari. Upacara selapanan biasanya berhubungan dengan weton san bayi. Weton anda merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dan seterusnya) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Jika dalam upacara sepasar dulu bayi belum diberi nama, ketika upacara selapanan ini si bayi diberi nama oleh kedua orangtuanya.
![]() |
| Parasan |
Sebelum upacara selapanan dilakukan didahului dengan upacara parasan, yaitu mencukur rambut sang bayi. Parasan pertama kali dilakukan oleh ayah si bayi kemudian diikuti oleh sesepuh keluarga. Bayi digendong oleh ibunya dan ayah mencukur rambut si bayi. Atau ayah yang menggendong si bayi dan sesepuh keluarga yang mencukur rambut si bayi. Setelah rambut selesai tercukur bersih, dilakukan pengguntingan kuku.
Selama proses pencukuran rambut dan pengguntingan kuku, dukun membacakan mantra-mantra (doa-doa) penolak bala dan membakar kemenyan. Cukuran rambut dan guntingan kuku dimasukan ke dalam kendhil baru kemudian dibungkus dengan kain mori, lalu dikubur di tempat penguburan atau penanaman ari-ari. Setelah prosesi parasan selesai, diucapkan ujub disusul dengan doa keselamatan bagi sang bayi dan keluarga. Sebagian sesajian selamatan dibawa pulang oleh kerabat dan tetangga yang hadir. Setelah upacara adat selapanan, rangkaian upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak selesai dilaksanakan.
Dasar-dasar Pemberian Nama dalam Jawa
Adapun dasar-dasar yang dipakai dalam pemberian nama bagi orang Jawa antara lain adalah: hari kelahiran, bulan kelahiran, neptu, nomor urut anak dalam keluarga, harapan atau cita-cita orang tua, peristiwa penting, pewayangan, gabungan ayah dan ibu, rasul/para sahabatnya, dan Al Quran..
1. Hari Kelahiran (Weton)
Seperti kita ketahui orang Jawa pada umumnya menganggap bahwa hari kelahiran (weton) merupakan peristiwa penting yang tidak boleh dilupakan sepanjang hidup. Menurut kepercayaan orang Jawa weton dianggap dapat menentukan nasib seseorang dalam segala hal. Dan, salah satu jalan untuk selalu mengingatnya, maka hari kelahiran itu dipakai sebagai dasar untuk memberi nama bayi yang bersangkutan.
Weton atau hari kelahiran terdiri dari dino (Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jemuah, Setu, Ngahat) dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Oleh karena itu, nama-nama sebagian orang Jawa juga didasarkan pada dino, pasaran atau gabungan dari keduanya.
Contoh nama-nama yang memakai dasar dino, sebagai berikut:
- Senan, Saniman, Saniah, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Senin.
- Lasa, Lasiman, Lasiah, Lasmini, Lasman, diberikan kepada anak-anak yang lahir pada hari Selasa.
- Rebi, Rubinah, Rubiyo, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Rabu.
- Kemis, Misman, Misiah, Kemin, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Kamis.
- Jumidi, Jumali, Jumini, Juminah, Jumiyo, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Jumat.
- Setu, Saptini, Sabeni, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Sabtu.
- Ngadinah, Ngatiman, Ngatemi, Ngatino, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Ngahat (Minggu).
Contoh nama-nama yang memakai dasar pasaran adalah sebagai berikut:
- Legimin, Gino, Gito, Leginah, Ginah, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Legi.
- Paino, Painem, Paimah, Paijo, Paimin, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Paing.
- Ponirah, Poniman, Poinah, Ponijan, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Pon.
- Wagino, Wagiman, Waginah, Wagini, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Wage.
- Kliman, Klimin, Kliwon, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Kliwon.
- Tugino, Tuginah, Tugimin, Tugiman, diberikan kepada anak yang dilahirkan pada hari Sabtu Legi.
Contoh nama-nama yang memakai dasar gabungan antara dino dan pasaran adalah:
- Tugino, Tuginah, Tugimin, Tugiman, diberikan kepada anak yang dilahirkan pada hari Sabtu Legi.
2. Bulan Kelahiran
Masyarakat Jawa pada umumnya, mengenal bulan Jawa (Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkangidah, Besar) dan bulan nasional (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember).
Sebagai catatan, tidak semua bulan (Jawa maupun nasional) dipakai sebagai dasar pemberian nama. Untuk nama-nama bulan Jawa hanya beberapa saja yang secara umum dipakai antara lain: Suro, Sapar, Maulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Sawal, Besar. Sedangkan untuk bulan nasional yang umum dipakai adalah bulan Januari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September dan November.
Contoh nama-nama yang memakai dasar bulan Jawa adalah:
- Surati, Suratmi, Suratinah, Suratmin, Suratman, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Suro.
- Sapariah, Suparmi, Supardi, Suparno, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Sapar.
- Mulyati, Mulyani, Mulyadi, Mulyono, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Mulud.
- Jumadi, Jumali, Juminah, Juminem, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Jumadilawal dan Jumadilakir.
- Waljinah, Waluyo, Walgito, Walimin, Waluyan, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Sawal.
- Besar, Sarjana, Saryanto, Saryanto, Sartini, Sarmini, Sarmina, Saryati, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Besar.
Contoh nama-nama yang memakai dasar bulan nasional adalah:
- Aryani, Aryana, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Januari.
- Maryati, Maryani, Maryono, Maryoto, Margono, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Maret.
- Apriati, Priatmi, Priono, Pribadi, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan April.
- Mei Hastuti, Meilani, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Mei.
- Yuni, Yunawati, Yuniarti, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Juni.
- Yuli Setyawati, Yuli Astuti, Yulianto, Yuliana, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Juli.
- Agustin, Agustinah, Agus, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Agustus.
- Septiani, Septianingsih, Saptoto, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan September.
- Nofianto, Novianti, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan November.
3. Neptu
Seperti telah disebutkan di atas, orang Jawa pada umumnya mengenal dino dan pasaran. Dino pitu dan pasaran limo itu masing-masing mempunyai nilai yang disebut neptu. Neptu dino: Senen (4), Selasa (3), Rebo (7), Kemis (8), Jemuah (6), Setu (9), Ngahat (5) dan neptu pasaran: Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8). Jumlah neptu dino dan pasaran tersebut nantinya akan dikaitkan atau disamakan dengan nomor urut huruf Jawa yang jumlahnya 20 (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, ma, ga, ba, tha, nga).
Contoh: anak yang lahir pada hari Sabtu Legi. Sabtu Legi berneptu 14 yaitu berasal dari Sabtu berneptu 9 dan Legi berneptu 5. Sedang huruf Jawa yang ke 14 adalah “ya”. Jadi nama anak tersebut akan memakai huruf “ya”, misalnya Yata, Yana, Yani, Yati.
4. Nomor Urut Anak dalam Keluarga
Untuk mengingat nomur anaknya, maka orang tua anak itu memakai nomor urut anak tersebut (dari yang paling tua hingga termuda) sebagai dasar untuk memberi nama.
Contohnya:
- Nama yang memakai Eko diberikan kepada anak nomor satu. Misalnya: Eko Pratiwi, Ekorini, Ekasari, Eko Budi Santoso.
- Nama yang memakai Dwi, diberikan kepada anak nomor dua. Misalnya: Dwi Asih, Dwi Anto, Dwi Cahyono.
- Nama yang memakai Tri diberikan kepada anak nomor tiga. Misalnya Triono, Trianah, Tri Puji Astuti.
- Nama yang memakai Catur diberikan kepada anak nomor empat. Misalnya Catur Wikansari, Catur Putranto, Caturini, dan seterusnya.
5. Haparan atau Cita-cita Orang Tua
Pemberian nama yang berdasarkan harapan atau cita-cita orang tua adalah:
- Nama: Slamet, Widodo, Mulyono, Rahayu, mengandung harapan supaya anak itu selamat.
- Nama: Prakoso, Santoso, Kuwato, mengandung harapan supaya anak itu kuat atau perkasa.
- Nama: Margono, Sugiharto, Hartati, Hartini, Sri Rejeki mengandung harapan supaya anak itu banyak rezekinya atau menjadi orang kaya.
- Nama: Sabar, Trimo, Bariah, Sabarti, mengandung harapan supaya anak itu menjadi orang sabar.
- Nama: Cahyono, Cahyadi, Kartikasari, Fajarini, mengandung harapan agar anak itu cemerlang dalam hidupnya.
6. Peristiwa Penting
Pemberian nama berdasarkan suatu peristiwa penting pada saat anak dilahirkan contohnya adalah:
- Nama: Merdekawati, Mardikani, Mardikoyuwono, diberikan karena anak itu lahir pada saat kemerdekaan (tahun 1945).
- Nama: Linggarjati, karena anak itu lahir pada saat terjadi perjanjian Linggarjati.
- Nama: Hariadi, Fitriani, karena anak itu lahir pada hari Raya Idul Fitri.
- Irianto, Irawati, iriani, anak itu dilahirkan pada waktu pengusiran Belanda dari Irian Barat.
- Prihatin, Suprihati, Prih Martini, karena anak itu ketika dilahirkan keadaan orang tuanya sedang dalam kesulitan (dalam keadaan prihatin).
7. Pewayangan
Pemberian nama berdasarkan nama-nama tokoh dalam pewayangan. Maksudnya agar anak itu berjiwa dan berbudi luhur seperti para tokoh pewayangan tersebut. Contohnya: Kunto Wibisono, Bimo Arioteja, Harjuno, Endang Suprobowati, Siti Sundari, Sri Sukesi, Sri Lestari, Sintawati dan lain sebagainya.
8. Gabungan Ayah dan Ibu
Pemberian nama berdasarkan gabungan nama ayah dan ibu anak itu. Contohnya: Seorang suami bernama Maryono dan isteri bernama Sundari, setelah punya anak diberi nama Rinawati atau Daryono.
9. Rasul/Para Sahabatnya
Pemberian nama berdasar nama-nama Nabi/Rasul atau para sahabat, mengandung harapan supaya anak-anak yang diberi nama itu berjiwa besar seperti Nabi/Rasul atau para sahabat tersebut. Contohnya: Dawut, Ibrahim, Muhammad, Yusuf, Sulaiman, Yunus dan lain sebagainya.
10. Al Quran
Pemberian nama berdasarkan ayat suci Al Quran. Contohnya: Rachmat, Taufik, Hasanah, Umi Kulsum, Nurjanah, Siai Aisyah, Hamidah dan lain sebagainya.
Adapun dasar-dasar yang dipakai dalam pemberian nama bagi orang Jawa antara lain adalah: hari kelahiran, bulan kelahiran, neptu, nomor urut anak dalam keluarga, harapan atau cita-cita orang tua, peristiwa penting, pewayangan, gabungan ayah dan ibu, rasul/para sahabatnya, dan Al Quran..
1. Hari Kelahiran (Weton)
Seperti kita ketahui orang Jawa pada umumnya menganggap bahwa hari kelahiran (weton) merupakan peristiwa penting yang tidak boleh dilupakan sepanjang hidup. Menurut kepercayaan orang Jawa weton dianggap dapat menentukan nasib seseorang dalam segala hal. Dan, salah satu jalan untuk selalu mengingatnya, maka hari kelahiran itu dipakai sebagai dasar untuk memberi nama bayi yang bersangkutan.
Weton atau hari kelahiran terdiri dari dino (Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jemuah, Setu, Ngahat) dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Oleh karena itu, nama-nama sebagian orang Jawa juga didasarkan pada dino, pasaran atau gabungan dari keduanya.
Contoh nama-nama yang memakai dasar dino, sebagai berikut:
- Senan, Saniman, Saniah, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Senin.
- Lasa, Lasiman, Lasiah, Lasmini, Lasman, diberikan kepada anak-anak yang lahir pada hari Selasa.
- Rebi, Rubinah, Rubiyo, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Rabu.
- Kemis, Misman, Misiah, Kemin, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Kamis.
- Jumidi, Jumali, Jumini, Juminah, Jumiyo, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Jumat.
- Setu, Saptini, Sabeni, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Sabtu.
- Ngadinah, Ngatiman, Ngatemi, Ngatino, diberikan kepada anak yang lahir pada hari Ngahat (Minggu).
Contoh nama-nama yang memakai dasar pasaran adalah sebagai berikut:
- Legimin, Gino, Gito, Leginah, Ginah, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Legi.
- Paino, Painem, Paimah, Paijo, Paimin, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Paing.
- Ponirah, Poniman, Poinah, Ponijan, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Pon.
- Wagino, Wagiman, Waginah, Wagini, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Wage.
- Kliman, Klimin, Kliwon, diberikan kepada anak yang lahir pada pasaran Kliwon.
- Tugino, Tuginah, Tugimin, Tugiman, diberikan kepada anak yang dilahirkan pada hari Sabtu Legi.
Contoh nama-nama yang memakai dasar gabungan antara dino dan pasaran adalah:
- Tugino, Tuginah, Tugimin, Tugiman, diberikan kepada anak yang dilahirkan pada hari Sabtu Legi.
2. Bulan Kelahiran
Masyarakat Jawa pada umumnya, mengenal bulan Jawa (Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkangidah, Besar) dan bulan nasional (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember).
Sebagai catatan, tidak semua bulan (Jawa maupun nasional) dipakai sebagai dasar pemberian nama. Untuk nama-nama bulan Jawa hanya beberapa saja yang secara umum dipakai antara lain: Suro, Sapar, Maulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Sawal, Besar. Sedangkan untuk bulan nasional yang umum dipakai adalah bulan Januari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September dan November.
Contoh nama-nama yang memakai dasar bulan Jawa adalah:
- Surati, Suratmi, Suratinah, Suratmin, Suratman, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Suro.
- Sapariah, Suparmi, Supardi, Suparno, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Sapar.
- Mulyati, Mulyani, Mulyadi, Mulyono, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Mulud.
- Jumadi, Jumali, Juminah, Juminem, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Jumadilawal dan Jumadilakir.
- Waljinah, Waluyo, Walgito, Walimin, Waluyan, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Sawal.
- Besar, Sarjana, Saryanto, Saryanto, Sartini, Sarmini, Sarmina, Saryati, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Besar.
Contoh nama-nama yang memakai dasar bulan nasional adalah:
- Aryani, Aryana, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Januari.
- Maryati, Maryani, Maryono, Maryoto, Margono, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Maret.
- Apriati, Priatmi, Priono, Pribadi, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan April.
- Mei Hastuti, Meilani, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Mei.
- Yuni, Yunawati, Yuniarti, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Juni.
- Yuli Setyawati, Yuli Astuti, Yulianto, Yuliana, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Juli.
- Agustin, Agustinah, Agus, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan Agustus.
- Septiani, Septianingsih, Saptoto, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan September.
- Nofianto, Novianti, diberikan kepada anak yang lahir pada bulan November.
3. Neptu
Seperti telah disebutkan di atas, orang Jawa pada umumnya mengenal dino dan pasaran. Dino pitu dan pasaran limo itu masing-masing mempunyai nilai yang disebut neptu. Neptu dino: Senen (4), Selasa (3), Rebo (7), Kemis (8), Jemuah (6), Setu (9), Ngahat (5) dan neptu pasaran: Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8). Jumlah neptu dino dan pasaran tersebut nantinya akan dikaitkan atau disamakan dengan nomor urut huruf Jawa yang jumlahnya 20 (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, ma, ga, ba, tha, nga).
Contoh: anak yang lahir pada hari Sabtu Legi. Sabtu Legi berneptu 14 yaitu berasal dari Sabtu berneptu 9 dan Legi berneptu 5. Sedang huruf Jawa yang ke 14 adalah “ya”. Jadi nama anak tersebut akan memakai huruf “ya”, misalnya Yata, Yana, Yani, Yati.
4. Nomor Urut Anak dalam Keluarga
Untuk mengingat nomur anaknya, maka orang tua anak itu memakai nomor urut anak tersebut (dari yang paling tua hingga termuda) sebagai dasar untuk memberi nama.
Contohnya:
- Nama yang memakai Eko diberikan kepada anak nomor satu. Misalnya: Eko Pratiwi, Ekorini, Ekasari, Eko Budi Santoso.
- Nama yang memakai Dwi, diberikan kepada anak nomor dua. Misalnya: Dwi Asih, Dwi Anto, Dwi Cahyono.
- Nama yang memakai Tri diberikan kepada anak nomor tiga. Misalnya Triono, Trianah, Tri Puji Astuti.
- Nama yang memakai Catur diberikan kepada anak nomor empat. Misalnya Catur Wikansari, Catur Putranto, Caturini, dan seterusnya.
5. Haparan atau Cita-cita Orang Tua
Pemberian nama yang berdasarkan harapan atau cita-cita orang tua adalah:
- Nama: Slamet, Widodo, Mulyono, Rahayu, mengandung harapan supaya anak itu selamat.
- Nama: Prakoso, Santoso, Kuwato, mengandung harapan supaya anak itu kuat atau perkasa.
- Nama: Margono, Sugiharto, Hartati, Hartini, Sri Rejeki mengandung harapan supaya anak itu banyak rezekinya atau menjadi orang kaya.
- Nama: Sabar, Trimo, Bariah, Sabarti, mengandung harapan supaya anak itu menjadi orang sabar.
- Nama: Cahyono, Cahyadi, Kartikasari, Fajarini, mengandung harapan agar anak itu cemerlang dalam hidupnya.
6. Peristiwa Penting
Pemberian nama berdasarkan suatu peristiwa penting pada saat anak dilahirkan contohnya adalah:
- Nama: Merdekawati, Mardikani, Mardikoyuwono, diberikan karena anak itu lahir pada saat kemerdekaan (tahun 1945).
- Nama: Linggarjati, karena anak itu lahir pada saat terjadi perjanjian Linggarjati.
- Nama: Hariadi, Fitriani, karena anak itu lahir pada hari Raya Idul Fitri.
- Irianto, Irawati, iriani, anak itu dilahirkan pada waktu pengusiran Belanda dari Irian Barat.
- Prihatin, Suprihati, Prih Martini, karena anak itu ketika dilahirkan keadaan orang tuanya sedang dalam kesulitan (dalam keadaan prihatin).
7. Pewayangan
Pemberian nama berdasarkan nama-nama tokoh dalam pewayangan. Maksudnya agar anak itu berjiwa dan berbudi luhur seperti para tokoh pewayangan tersebut. Contohnya: Kunto Wibisono, Bimo Arioteja, Harjuno, Endang Suprobowati, Siti Sundari, Sri Sukesi, Sri Lestari, Sintawati dan lain sebagainya.
8. Gabungan Ayah dan Ibu
Pemberian nama berdasarkan gabungan nama ayah dan ibu anak itu. Contohnya: Seorang suami bernama Maryono dan isteri bernama Sundari, setelah punya anak diberi nama Rinawati atau Daryono.
9. Rasul/Para Sahabatnya
Pemberian nama berdasar nama-nama Nabi/Rasul atau para sahabat, mengandung harapan supaya anak-anak yang diberi nama itu berjiwa besar seperti Nabi/Rasul atau para sahabat tersebut. Contohnya: Dawut, Ibrahim, Muhammad, Yusuf, Sulaiman, Yunus dan lain sebagainya.
10. Al Quran
Pemberian nama berdasarkan ayat suci Al Quran. Contohnya: Rachmat, Taufik, Hasanah, Umi Kulsum, Nurjanah, Siai Aisyah, Hamidah dan lain sebagainya.
ACUAN:
- Kamus Besar Bahasa Indonesia
- https://id.wikipedia.org
- http://alkadri-pengajian.blogspot.co.id
- http://fahsya-diary.blogspot.co.id
- http://www.mikirbae.com
- http://uun-halimah.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar