KOTA ZAMAN KUNO
Kebudayaan awal menyebar
sepanjang lembah-lembah subur dimana makanan, air, dan transportasi dapat
diperoleh dengan mudah. Kekuasaan pindah dari satu kerajaan ke kerajaan
lainnya, dan masing-masing memberikan sumbangan pada evolusi kebudayaan
manusia.
Proses perpindahan ini atau
urbanisasi sudah berlangsung sekitar 4.000 tahun S.M, di daerah-daerah Bulan
Sabit yang subur (Fertile crescent), yang membentang dari Sungai Nil sampai
kedaratan alluvial sungai Tigris dan Efrat.
Perencanaan kota dimulai dengan perkembangan bentuk-bentuk
kerjaan kota didirikan oleh bangsa Sumeria dari Assiria. Membangun kota-kota
ini berfungsi sebagai benteng dan sekaligus pusat perdagangan hasil pertanian.
Kota-kota tersebut juga memiliki beberapa tempat pembuatan barang-barang
manufaktur dan kesenian yang merupakan ciri khas zaman perunggu (4.000 sampai
3.000 S.M).
Salah satu dari kota-kota tertua adalah Babilon (sekitar 55
mil dari kota Baghdad modern, Irak), Kota yang semula dibangun ini seperti
kota-kota di Sumeria yang lain dari zaman perunggu dan mencapai puncak
kejayaannya yang legendaris ketika Nebukadnezar II membangun kembali pada abad
6 S.M. Kota babilon baru ini dibangun mengikuti perencanaan jalan yang teratur,
kuil, dan menaranya tetap berdiri ditengah kota dan istana taman-taman
bergantung yang termasyhur ditembok utaranya ada di Sungai Efrat. Pada puncak
kebesarannya sebagai ibukota imperium Babilonia.
Mesir
Di Mesir, hidup rakyat dipersembahkan untuk Fir’aun.
Kota-kota yang mereka bangun millenimu (masa seribu tahun) ketiga S.M. atas
perintah Fir’aun yang sedang berkuasa, menampung para budak dan tukang yang
terlibat dalam pembangunan piramid-piramid besar—makam dari keluarga dan
bangsawan. Sel-sel menyerupai barak besar dan terbuat dari bata itu dipadatkan
di sekitaran pelataran bersama. Gang-gang sempit selain berfungsi sebgai jalan
juga sebagai saluran air limbah terbuka. Kota-kota dikelilingi tembok,
karenanya tembok-tembok mungkin dibangun terutama sebagai perlindungan terhadap
banjir musiman.
Bersamaan dengan pembangunan piramida, tumbuh pula kota-kota
yang terbuat dari bata sepanjang Lembah Indus (di Pakistan sekarang). Di
Mohenjo-Daro dan Harrapa jalan-jalan dibentuk berpola teratur, dan seperti di
Mesir. Rumah-rumah dibangun dengan kompak disekitar halaman dalam. Tinggi
bangunan ditetapkan proporsional dengan lebar jalan; dimana yang terbanyak
adalah satu dua lantai. Sanitasi relatif sudah teratur; sutau sistem aliran air
limbah bawah tanah memanjang sepanjang kota dan dihubungkan kerumah-rumah.
Dalam millenium kedua S.M. para Fir’aun Mesir membangun kota
kuil di tepi sungai Nil. Jalan-jalan besar yang monumental, plaza-plaza kuil
yang luas, dan makam-makam yang terbuat dari potongan batu merupakan saksi bisu
dari kehidupan para bangsawan di Memphis, Thebes dan Tel-el-Amama.
Serangkaian kerajaan muncul di Mesopatamia, dan perkampungan
sebelumnya sederhana di sepanjang lembah sungai Euphrates dan Tigris menjadi
kota-kota monumental para raja. Setiap kota dibenteng untuk melindungi serangan
musuh. Kuil istana yang megah mendominasi kota, dan rakyat jelata yang hidup
dalam bayangan perbudakan, agama takhayul, serta serta kesulitan ekoranomi.
Kota-kota di Aegea
Suatu masyarakat yang lebih maju nampaknya muncul di
pulau-pulau di laut Aegea. Raja-raja yang berkuasa nampaknya tidak didewakan
seperti didewakan seperti di daerah timur. Istana-istana disini berfungsi
sebagai pusat kehidupan dan Kebudayaan Aegea.
Kota-kota awal aegea tidak teratur, jalan berkelok-kelok
mengikuti topografi yang berbukit-bukit. Jalan-jalan berupa lorongan sempit
namun diperkeras dengan batu. Berbagai penggalian mengungkapkan adanya sistem
penyediaan air minum, sanitasi dan saluran airr limbah yang sangat maju, bagi
istana dan sebagian besar rumah; sebagian hunian berlantai satu, walaupun
dibangun padat.
Beijing dan Lukang
Beijing dibangun pada abad kedelapan S.M. pada lokasi yang
kira-kira sama dengan lokasi sekarang. Ibukota Repupblik Rakyat Cina ini
terletak di bagian utara Dataran cina Utara. Luasnya lebih dari 16.000 kilometer
persegi. Secara geografis beijing menempati posisi di Cina seperti New York di
Amerika Utara, dimana keduanya dekat dengan garis lintang empatpuluh derajat
dan mempunyai kondisi iklim yang sama pada musim semi dan gugur. Namun
berlainan dengan New York, Beijing tidak mempunyai akses langsung ke sungai
penting atau pantai.
Dipusat kota terletak kelompok istana yang disebut Kota
Terlarang. Di sebelah selatan terletak Istana Imperial, tiananmen, dengan
panjang keliling sembilan kilometer. Suatu bujur sangkar seluas duapuluh
kilometer di luar Kota Imperial adalah Kota Dalam. Bagian empat persegi panjang
di sebelah selatan adalah Kota Luar (atau Cina). Kota Dalam terbagi-bagi oleh
jalan-jalan utama yang berpotongan dengan lorong-lorong yang disebut hutong.hutong
ini secara tradisonal merupakan tempat tinggal paraseniman dan tukang ahli,
serta merupakan lokasi toko-toko yang melayani kebutuhan sehari-hari penduduk
setempat.
Lukang, sebuah kota pelabuhan tua di daerah Changua, adalah
tempat dimana orang-orang dan kebudayaan cina pertama kali tampak di Taiwan.
Lukang dewasa ini, yang namanya berarti “pelabuhan-rusa”, memilik luas wilayah
15.000 acre.
Jalan yang berliku merupakan ciri Lukang . daerah
perdagangan terletak sepanjang garis jalan utama, dimana terdapat dua kuil
besar. Diseluruh daerah perumahan terletak daerah pertanian dan kolam-kolam
ikan,. Pabrik-pabrik kecil juga terletak diluar kota. Jalan-jalan utara-selatan
dan timur-barat yang membagi kota kuno itu menjadi blok-blok, berfungi kontrol
sosial. Setiap blok dikelilingi tembok yang membentuk suatu kawasanyang
mandiri.
Yunani
Peradaban barat dimulai di pulau-pulau dilautan Aegea dan
berkembang sejak orang-orang dari utara mendiami tanah Yunani dan berbaur
dengan penduduk asli.
Golongan bangsawan pemilik tanah yang memegang kekuasaan,
dan abad kedelapan S.M. kelompok ini memegang sebagian besar pengaruhnya semula
dipunyai para raja. Benteng istana menghilang dan kuil-kuil yang
dipersembahakan kepada dewa-dewa Yunani menggantikan tempatnya ditempat yang
tinggi di kota-kota, yaitu Acropolis. Kaum-kaum bangsawan mengambil kekuasaan
para raja dan menindas para petani. Suatu kelas menengah perdagangan muncul.
Pertentangan antara ekonomi baru ini dan kaum bangsawan di kota itu memalsa dipilihnya
seorang pemimpin bersama dari kelas-kelas terkemuka , dan pada abad ketujuh
S.M. penguasa dari athena merampas kekuasaan dari lembaga yang ada.
Pada abad kelima S.M. Pericles mulai memperkenalkan suatu
bentuk kewarganegaraan berazaskan moral dan politik, yang disebut Demokrasi.
Pendidikan berpolitik diperluas dengan kebebasan berbicara dan berdiskusi.
Hakim dipilih untuk menjalankan peraturan—perundangan dan pemerintah dijalankan
dengan tegas. Kedaulatan rakyat dijmin dan dilindungi. Para penduduk mengadakan
pertemuan di kuil Athena, maka tempat sidang demokrasi menggantikan kedudukan
istana penguasa sebagai pusat kota.
Berkembangya demokrasi, maka rumah-rumah dan fasilitas
masyarakat menjadi unsur yang paling penting pada perencanaan kota. Dimasa awal-awal
demokrasi, Kota Yunani ini merupakan jaringan ruwet dari lorong yang tidak
diperkeras, yang kekurangan saluran air dan sanitasi. Air dibawa dari
sumur-sumur setempat. Sampah dibuang kejalan. Tidak ada istana kecuali
kuil-kuil, maka bangunan umum sangat sedikit dan sangat sederhana. Agora, atau
pasar, yang merupakan pusat kegiatan perkotaan berbentuk tak teratur.
Dibagian akhir abad kelima S.M seorang arsitek dari Miletus
bernama Hippodamus mengemukakan teori-teori positif dalam seni dan ilmu perencanaan
kota. Diantaranya ia mengemukakan perlunya sistem jalan yang sejajar dan
membentuk persegi panjang (atau pola gridion), agar tercipta bentuk geometris
pada perkotaan.
Hippodamus menciptakan ide apa yang disebut Agora, suatu
pusat perdagangan yang diatur dalam bentuk persegi panjang. Kegiatan
perdagangan suatu kota dilakukan di Agora, yang nampak berbeda sekali dengan
tempat dimana rakyat mengadakan tempat politik—yang disebut pnyk, atau
forum lapangan terbuka – tetapi letaknya seringkali berdekatan. Orang
berkeyakinan Hippodamuslah yang merancang kota Piraeus (kota pelabuhan Athena)
dan kota Rhodes.
Sekitar tahun 400 S.M. Athena sudah menjjadi sebuah kota
yang berpenduduk 40.000 orang ditambah dengan 100.000 budak dan orang
asing.hippodamus berpendirian athena sajayang menjadi ibukota, yang boleh
menjadi sebesar itu dan ia mengungkapkan sebaiknya kota-kota lain jangan
berpenduduk lebih dari 10.000 orang. Teorinya didasarkan atas keyakinannya
tentang masalah kesehatan dan tentang kemampuan sebuah kota untuk menyediakan
bahan makanan dan kebutuhan air.
Sokrates memperingatkan bahwa apabila peradaban Yunani tidak
berkembang, maka akan terjadi kemerosotan. Tidak lama kemudian, Plato dan
Aristoteles memperingatkan bahwa orang-orang kaya yang menganggap sulit untuk
menerima peningkatan peradaban seperti itu, akan pergi meninggalkan kota menuju
tanah-tanah dan villa mereka diluar kota , dan hal itu akan membahayakan
demokrasi.
Kondisi kota-kota semakin memburuk, ketika Yunani terlibat
serangkaian peperangan yang betul-betul membawa bencana dan Yunani kalah
perang. Begitu besarnya kerugiaan sehingga Yunani hanya menjadi sebuah propinsi
Romawi pada tahun 146 S.M.
Arus perpindahan warga kota yang kaya-raya kedaerah
pedalaman ini agaknya contoh pertama tentang proses penghancuran kota akibat
suburbanisasi. Sebab ketika meninggalkan kota masih meninggalkan berbagai
masalah yang sulit dipecahkan. Suatu lingkaran setan yang merusak mulai
berkembang dipusat kota.
Banyak desain dan proporsi
arsitektur bangunan dikota-kota Yunani kuno dalam tiga abad terakhir S.M
– zaman Hellenisme – mempunyai appa yang disebut gaya klasik. Zaman Hellenisme
merupakan peralihan kepada perencanaan Romawi yang berorientasikan
kemiliteran dan pertahanan.
Anehnya, orang Yunani tidak memadukn teori dan filsafat
tentang perencanaan dan desain untuk zaman Hellenisme. Ahli teori dan
organisator terkemuka tentang arsitektur gaya klasik Yunani asalah Vituvvius,
seorang arsitek dan insinyur Romawi dari abad pertama S.M. yang banyak berkarya
di Afrika Utara. Pokok-pokok pemikirannya tentang desain klasik dapat diketahui
dengan jelas dari uraiannya tentang bangunan-bangunan yang memiliki sifat-sifat
“kokoh, nyaman, dan menyenangkan”.
Romawi
Roma menggantikan Athena sebagai pusat dunia barat selamazaman
kekaisaran Romawi(27 S.M. hingga tahun 324). Sejak tahun 509 S.M., yaitu sejak
tersingkirnya raja asing terakhir yang memerintahnya, Roma menjadi republik
yang diperintahkan oleh kaum aristokrat, dan menjelang kematian Julius Caesar
tahun 44 S.M. RepublikRomawi sudah menyebarkan kekuasaannya ke italia dan
sekitarnya. Sejak Caesar Augustus tahun 27 S.M., Kekaisaran Romawi mulai
melanjutkan ekspansinya. Setip Caesar berusaha dengan menaklukkan negeri lain
untuk menjaga ketertiban dunia, menurut pandangan Roma – Pax Romano,
atau perdamaian Romawi – suatu pemikirian tentang satu dunia terdiri dari
berbagai macam bangsa yang mematuhi undang-undang yang sama, dibawah satu orang
pemimpin besar.
Semakin kuat dan kaya nya kekaisaran Romawi, jumlah penduduk
Roma pun bertambah hingga mencapai 2 juta jiwa menjelang abad ketiga sesudah
masehi.pertumbuhan ini menyebabkan tidaka tercukupinya penyediaan perumahan dan
tranportasi. Perlu diketahui pada abd pertama sesudah masehi di Roma dijumpai
bangunan bertingkat delapan, yaitu ketika Caesar Augustus membatasi tinggi
bangunan maksimum 70 kaki – contoh pertama
yang diketahui tentang pembatasan bangunan. Roma juga sangat menderita
karena kekurangan suplai air, sehingga mengakibatkan pembuatan akuaduk yang
berfungsi mengalirkan air tawar kedalam kolam.
Para pemimpin membangun berbagai monumen raksasa dan
bangunan-bangunan sebagai tanda keberannya dan kebesaran Roma, dan setiap
kaisar baru membangun sebuah forum (tempat pertemuan umum). Forum-forum ini
menjadi pusat kehidupan politik dan bisnis di kota Roma.
Romawi telah menyadari bahwa pentingnya transportasi
sehingga dalam hal ini, bangsa Romawi muncul sebagai peren cana wilayah
pertama. Mereka merancang dan membangun jalan-jalan diseluruh imperium. Yang
membentang dari Inggris ke Babilon dan dari Spanyol sampai Mesir, yang
berfungsi untuk menghubungkan kota-kotanya. Dalam upaya-upaya menduduki wilayah
baru, menekan penduduk migrasi ke kota Roma, menegakkan hukum dan ketertiban
Romawi. Orang Romawi membangun sejumlah kota militer diseluruh imperium.
Kebanyakan dari kota-kota nya mengikuti suatu rencana induk dengan perbedaan
sedikit sehingga memungkinkan adanya
standarisasi. Dibangun dengan pola hampir bujur sangkar, kota koloni ini didominasi
bangunan untuk kepentingan masyarakat yang terletak dipersilangan dua jalan
utama. Rumah-rumah pada umumnya berupa apartemen kecil tetapi ada juga
rumah-rumah bergaya altrium ( ruang terbuka tidak beratap didalam rumah.
Runtuhnya Kekaisaran Romawi terjadi secara berangsur-angsur.
Penduduk lebih suka bersenang-senang dan menjadi malas, sedangkan kepemimpinan
terpecah-pecah karena saling bertengkar. Perkembangan agama Nasrani
menggerogoti akar-akar kekuasaan Romawi, dalam masa lima abad kekaisaran Romawi
baru melihat musuh didepan pintunya sendiri. Dengan invasi suku Barbar, Roma
dan kota-kota lain didalam imperium dihancurkan.
Kekaisaran Romawi runtuh pada abad akhir abad ketiga.
Kostantinus I menjadi Kaisar kristen pertama yang memerintah Romawi pada tahun
307, dan memindahkan ibukotanya ke Konstantinopel (istanbul, Turki) pada tahun
303.
Pada abad kelima mulailah zaman kegelapan. Kota-kota yang
semula direncanakan sebagai lambang kekuasaan kaisar, digantikan oleh kota-kota
abad pertengahan, yang berlandaskan kekuasaan para penguasa feodal atas para
budak mereka, dan bukan berlandaskan prinsip-prinsip demokrasi atau
imperialisme.
Sumber :
-
Catanes, Anthony J., dan Snyder, James C. Perencanaan
Kota. Jakarta: Erlangga, 1992.
-
Gallion, Arthur B., dan Eisner, Simon. Pengantar perancangan kota jilid 1.
Jakarta: Erlangga, 1992.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar