Laman

Jumat, 11 Desember 2015

KOTA ZAMAN KUNO


KOTA ZAMAN KUNO
Kebudayaan awal menyebar sepanjang lembah-lembah subur dimana makanan, air, dan transportasi dapat diperoleh dengan mudah. Kekuasaan pindah dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya, dan masing-masing memberikan sumbangan pada evolusi kebudayaan manusia.
Proses perpindahan ini atau urbanisasi sudah berlangsung sekitar 4.000 tahun S.M, di daerah-daerah Bulan Sabit yang subur (Fertile crescent), yang membentang dari Sungai Nil sampai kedaratan alluvial sungai Tigris dan Efrat.
Perencanaan kota dimulai dengan perkembangan bentuk-bentuk kerjaan kota didirikan oleh bangsa Sumeria dari Assiria. Membangun kota-kota ini berfungsi sebagai benteng dan sekaligus pusat perdagangan hasil pertanian. Kota-kota tersebut juga memiliki beberapa tempat pembuatan barang-barang manufaktur dan kesenian yang merupakan ciri khas zaman perunggu (4.000 sampai 3.000 S.M).
Salah satu dari kota-kota tertua adalah Babilon (sekitar 55 mil dari kota Baghdad modern, Irak), Kota yang semula dibangun ini seperti kota-kota di Sumeria yang lain dari zaman perunggu dan mencapai puncak kejayaannya yang legendaris ketika Nebukadnezar II membangun kembali pada abad 6 S.M. Kota babilon baru ini dibangun mengikuti perencanaan jalan yang teratur, kuil, dan menaranya tetap berdiri ditengah kota dan istana taman-taman bergantung yang termasyhur ditembok utaranya ada di Sungai Efrat. Pada puncak kebesarannya sebagai ibukota imperium Babilonia.
Mesir
Di Mesir, hidup rakyat dipersembahkan untuk Fir’aun. Kota-kota yang mereka bangun millenimu (masa seribu tahun) ketiga S.M. atas perintah Fir’aun yang sedang berkuasa, menampung para budak dan tukang yang terlibat dalam pembangunan piramid-piramid besar—makam dari keluarga dan bangsawan. Sel-sel menyerupai barak besar dan terbuat dari bata itu dipadatkan di sekitaran pelataran bersama. Gang-gang sempit selain berfungsi sebgai jalan juga sebagai saluran air limbah terbuka. Kota-kota dikelilingi tembok, karenanya tembok-tembok mungkin dibangun terutama sebagai perlindungan terhadap banjir musiman.
Bersamaan dengan pembangunan piramida, tumbuh pula kota-kota yang terbuat dari bata sepanjang Lembah Indus (di Pakistan sekarang). Di Mohenjo-Daro dan Harrapa jalan-jalan dibentuk berpola teratur, dan seperti di Mesir. Rumah-rumah dibangun dengan kompak disekitar halaman dalam. Tinggi bangunan ditetapkan proporsional dengan lebar jalan; dimana yang terbanyak adalah satu dua lantai. Sanitasi relatif sudah teratur; sutau sistem aliran air limbah bawah tanah memanjang sepanjang kota dan dihubungkan kerumah-rumah.
Dalam millenium kedua S.M. para Fir’aun Mesir membangun kota kuil di tepi sungai Nil. Jalan-jalan besar yang monumental, plaza-plaza kuil yang luas, dan makam-makam yang terbuat dari potongan batu merupakan saksi bisu dari kehidupan para bangsawan di Memphis, Thebes dan Tel-el-Amama.
Serangkaian kerajaan muncul di Mesopatamia, dan perkampungan sebelumnya sederhana di sepanjang lembah sungai Euphrates dan Tigris menjadi kota-kota monumental para raja. Setiap kota dibenteng untuk melindungi serangan musuh. Kuil istana yang megah mendominasi kota, dan rakyat jelata yang hidup dalam bayangan perbudakan, agama takhayul, serta serta kesulitan ekoranomi.
Kota-kota di Aegea
Suatu masyarakat yang lebih maju nampaknya muncul di pulau-pulau di laut Aegea. Raja-raja yang berkuasa nampaknya tidak didewakan seperti didewakan seperti di daerah timur. Istana-istana disini berfungsi sebagai pusat kehidupan dan Kebudayaan Aegea.
Kota-kota awal aegea tidak teratur, jalan berkelok-kelok mengikuti topografi yang berbukit-bukit. Jalan-jalan berupa lorongan sempit namun diperkeras dengan batu. Berbagai penggalian mengungkapkan adanya sistem penyediaan air minum, sanitasi dan saluran airr limbah yang sangat maju, bagi istana dan sebagian besar rumah; sebagian hunian berlantai satu, walaupun dibangun padat.
Beijing dan Lukang
Beijing dibangun pada abad kedelapan S.M. pada lokasi yang kira-kira sama dengan lokasi sekarang. Ibukota Repupblik Rakyat Cina ini terletak di bagian utara Dataran cina Utara. Luasnya lebih dari 16.000 kilometer persegi. Secara geografis beijing menempati posisi di Cina seperti New York di Amerika Utara, dimana keduanya dekat dengan garis lintang empatpuluh derajat dan mempunyai kondisi iklim yang sama pada musim semi dan gugur. Namun berlainan dengan New York, Beijing tidak mempunyai akses langsung ke sungai penting atau pantai.
Dipusat kota terletak kelompok istana yang disebut Kota Terlarang. Di sebelah selatan terletak Istana Imperial, tiananmen, dengan panjang keliling sembilan kilometer. Suatu bujur sangkar seluas duapuluh kilometer di luar Kota Imperial adalah Kota Dalam. Bagian empat persegi panjang di sebelah selatan adalah Kota Luar (atau Cina). Kota Dalam terbagi-bagi oleh jalan-jalan utama yang berpotongan dengan lorong-lorong yang disebut hutong.hutong ini secara tradisonal merupakan tempat tinggal paraseniman dan tukang ahli, serta merupakan lokasi toko-toko yang melayani kebutuhan sehari-hari penduduk setempat.
Lukang, sebuah kota pelabuhan tua di daerah Changua, adalah tempat dimana orang-orang dan kebudayaan cina pertama kali tampak di Taiwan. Lukang dewasa ini, yang namanya berarti “pelabuhan-rusa”, memilik luas wilayah 15.000 acre.
Jalan yang berliku merupakan ciri Lukang . daerah perdagangan terletak sepanjang garis jalan utama, dimana terdapat dua kuil besar. Diseluruh daerah perumahan terletak daerah pertanian dan kolam-kolam ikan,. Pabrik-pabrik kecil juga terletak diluar kota. Jalan-jalan utara-selatan dan timur-barat yang membagi kota kuno itu menjadi blok-blok, berfungi kontrol sosial. Setiap blok dikelilingi tembok yang membentuk suatu kawasanyang mandiri.
Yunani
Peradaban barat dimulai di pulau-pulau dilautan Aegea dan berkembang sejak orang-orang dari utara mendiami tanah Yunani dan berbaur dengan penduduk asli.
Golongan bangsawan pemilik tanah yang memegang kekuasaan, dan abad kedelapan S.M. kelompok ini memegang sebagian besar pengaruhnya semula dipunyai para raja. Benteng istana menghilang dan kuil-kuil yang dipersembahakan kepada dewa-dewa Yunani menggantikan tempatnya ditempat yang tinggi di kota-kota, yaitu Acropolis. Kaum-kaum bangsawan mengambil kekuasaan para raja dan menindas para petani. Suatu kelas menengah perdagangan muncul. Pertentangan antara ekonomi baru ini dan kaum bangsawan di kota itu memalsa dipilihnya seorang pemimpin bersama dari kelas-kelas terkemuka , dan pada abad ketujuh S.M. penguasa dari athena merampas kekuasaan dari lembaga yang ada.
Pada abad kelima S.M. Pericles mulai memperkenalkan suatu bentuk kewarganegaraan berazaskan moral dan politik, yang disebut Demokrasi. Pendidikan berpolitik diperluas dengan kebebasan berbicara dan berdiskusi. Hakim dipilih untuk menjalankan peraturan—perundangan dan pemerintah dijalankan dengan tegas. Kedaulatan rakyat dijmin dan dilindungi. Para penduduk mengadakan pertemuan di kuil Athena, maka tempat sidang demokrasi menggantikan kedudukan istana penguasa sebagai pusat kota.
Berkembangya demokrasi, maka rumah-rumah dan fasilitas masyarakat menjadi unsur yang paling penting pada perencanaan kota. Dimasa awal-awal demokrasi, Kota Yunani ini merupakan jaringan ruwet dari lorong yang tidak diperkeras, yang kekurangan saluran air dan sanitasi. Air dibawa dari sumur-sumur setempat. Sampah dibuang kejalan. Tidak ada istana kecuali kuil-kuil, maka bangunan umum sangat sedikit dan sangat sederhana. Agora, atau pasar, yang merupakan pusat kegiatan perkotaan berbentuk tak teratur.
Dibagian akhir abad kelima S.M seorang arsitek dari Miletus bernama Hippodamus mengemukakan teori-teori positif dalam seni dan ilmu perencanaan kota. Diantaranya ia mengemukakan perlunya sistem jalan yang sejajar dan membentuk persegi panjang (atau pola gridion), agar tercipta bentuk geometris pada perkotaan.
Hippodamus menciptakan ide apa yang disebut Agora, suatu pusat perdagangan yang diatur dalam bentuk persegi panjang. Kegiatan perdagangan suatu kota dilakukan di Agora, yang nampak berbeda sekali dengan tempat dimana rakyat mengadakan tempat politik—yang disebut pnyk, atau forum lapangan terbuka – tetapi letaknya seringkali berdekatan. Orang berkeyakinan Hippodamuslah yang merancang kota Piraeus (kota pelabuhan Athena) dan kota Rhodes.
Sekitar tahun 400 S.M. Athena sudah menjjadi sebuah kota yang berpenduduk 40.000 orang ditambah dengan 100.000 budak dan orang asing.hippodamus berpendirian athena sajayang menjadi ibukota, yang boleh menjadi sebesar itu dan ia mengungkapkan sebaiknya kota-kota lain jangan berpenduduk lebih dari 10.000 orang. Teorinya didasarkan atas keyakinannya tentang masalah kesehatan dan tentang kemampuan sebuah kota untuk menyediakan bahan makanan dan kebutuhan air.
Sokrates memperingatkan bahwa apabila peradaban Yunani tidak berkembang, maka akan terjadi kemerosotan. Tidak lama kemudian, Plato dan Aristoteles memperingatkan bahwa orang-orang kaya yang menganggap sulit untuk menerima peningkatan peradaban seperti itu, akan pergi meninggalkan kota menuju tanah-tanah dan villa mereka diluar kota , dan hal itu akan membahayakan demokrasi.
Kondisi kota-kota semakin memburuk, ketika Yunani terlibat serangkaian peperangan yang betul-betul membawa bencana dan Yunani kalah perang. Begitu besarnya kerugiaan sehingga Yunani hanya menjadi sebuah propinsi Romawi pada tahun 146 S.M.
Arus perpindahan warga kota yang kaya-raya kedaerah pedalaman ini agaknya contoh pertama tentang proses penghancuran kota akibat suburbanisasi. Sebab ketika meninggalkan kota masih meninggalkan berbagai masalah yang sulit dipecahkan. Suatu lingkaran setan yang merusak mulai berkembang dipusat kota.
Banyak desain dan proporsi  arsitektur bangunan dikota-kota Yunani kuno dalam tiga abad terakhir S.M – zaman Hellenisme – mempunyai appa yang disebut gaya klasik. Zaman Hellenisme merupakan peralihan kepada perencanaan Romawi yang berorientasikan kemiliteran dan pertahanan.
Anehnya, orang Yunani tidak memadukn teori dan filsafat tentang perencanaan dan desain untuk zaman Hellenisme. Ahli teori dan organisator terkemuka tentang arsitektur gaya klasik Yunani asalah Vituvvius, seorang arsitek dan insinyur Romawi dari abad pertama S.M. yang banyak berkarya di Afrika Utara. Pokok-pokok pemikirannya tentang desain klasik dapat diketahui dengan jelas dari uraiannya tentang bangunan-bangunan yang memiliki sifat-sifat “kokoh, nyaman, dan menyenangkan”. 
 Romawi
Roma menggantikan Athena sebagai pusat dunia barat selamazaman kekaisaran Romawi(27 S.M. hingga tahun 324). Sejak tahun 509 S.M., yaitu sejak tersingkirnya raja asing terakhir yang memerintahnya, Roma menjadi republik yang diperintahkan oleh kaum aristokrat, dan menjelang kematian Julius Caesar tahun 44 S.M. RepublikRomawi sudah menyebarkan kekuasaannya ke italia dan sekitarnya. Sejak Caesar Augustus tahun 27 S.M., Kekaisaran Romawi mulai melanjutkan ekspansinya. Setip Caesar berusaha dengan menaklukkan negeri lain untuk menjaga ketertiban dunia, menurut pandangan Roma – Pax Romano, atau perdamaian Romawi – suatu pemikirian tentang satu dunia terdiri dari berbagai macam bangsa yang mematuhi undang-undang yang sama, dibawah satu orang pemimpin besar.
Semakin kuat dan kaya nya kekaisaran Romawi, jumlah penduduk Roma pun bertambah hingga mencapai 2 juta jiwa menjelang abad ketiga sesudah masehi.pertumbuhan ini menyebabkan tidaka tercukupinya penyediaan perumahan dan tranportasi. Perlu diketahui pada abd pertama sesudah masehi di Roma dijumpai bangunan bertingkat delapan, yaitu ketika Caesar Augustus membatasi tinggi bangunan maksimum 70 kaki – contoh pertama  yang diketahui tentang pembatasan bangunan. Roma juga sangat menderita karena kekurangan suplai air, sehingga mengakibatkan pembuatan akuaduk yang berfungsi mengalirkan air tawar kedalam kolam.
Para pemimpin membangun berbagai monumen raksasa dan bangunan-bangunan sebagai tanda keberannya dan kebesaran Roma, dan setiap kaisar baru membangun sebuah forum (tempat pertemuan umum). Forum-forum ini menjadi pusat kehidupan politik dan bisnis di kota Roma.
Romawi telah menyadari bahwa pentingnya transportasi sehingga dalam hal ini, bangsa Romawi muncul sebagai peren cana wilayah pertama. Mereka merancang dan membangun jalan-jalan diseluruh imperium. Yang membentang dari Inggris ke Babilon dan dari Spanyol sampai Mesir, yang berfungsi untuk menghubungkan kota-kotanya. Dalam upaya-upaya menduduki wilayah baru, menekan penduduk migrasi ke kota Roma, menegakkan hukum dan ketertiban Romawi. Orang Romawi membangun sejumlah kota militer diseluruh imperium. Kebanyakan dari kota-kota nya mengikuti suatu rencana induk dengan perbedaan sedikit  sehingga memungkinkan adanya standarisasi. Dibangun dengan pola hampir bujur sangkar, kota koloni ini didominasi bangunan untuk kepentingan masyarakat yang terletak dipersilangan dua jalan utama. Rumah-rumah pada umumnya berupa apartemen kecil tetapi ada juga rumah-rumah bergaya altrium ( ruang terbuka tidak beratap didalam rumah.
Runtuhnya Kekaisaran Romawi terjadi secara berangsur-angsur. Penduduk lebih suka bersenang-senang dan menjadi malas, sedangkan kepemimpinan terpecah-pecah karena saling bertengkar. Perkembangan agama Nasrani menggerogoti akar-akar kekuasaan Romawi, dalam masa lima abad kekaisaran Romawi baru melihat musuh didepan pintunya sendiri. Dengan invasi suku Barbar, Roma dan kota-kota lain didalam imperium dihancurkan. 
Kekaisaran Romawi runtuh pada abad akhir abad ketiga. Kostantinus I menjadi Kaisar kristen pertama yang memerintah Romawi pada tahun 307, dan memindahkan ibukotanya ke Konstantinopel (istanbul, Turki) pada tahun 303.
Pada abad kelima mulailah zaman kegelapan. Kota-kota yang semula direncanakan sebagai lambang kekuasaan kaisar, digantikan oleh kota-kota abad pertengahan, yang berlandaskan kekuasaan para penguasa feodal atas para budak mereka, dan bukan berlandaskan prinsip-prinsip demokrasi atau imperialisme.
Sumber :
-          Catanes, Anthony J., dan Snyder, James C. Perencanaan Kota. Jakarta: Erlangga, 1992.
-          Gallion, Arthur B., dan Eisner, Simon.  Pengantar perancangan kota jilid 1. Jakarta: Erlangga, 1992.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar