SEJARAH PERKEMBNGAN KOTA DAN
PERENCANAAN KOTA
PERENCANAAN KOTA
Pemahaman terhadap perkembangan kota
dapat dilakukan dengan menggunakan prespektif sejarah karena sejak ribuan tahun
fenomena kota sudah dikenal di berbagai bangsa, walaupun mempunyai arti yang
berbeda-beda. Pemukiman yang menjadi cikal-bakal kota sejak ribuan tahun yang
lalu bertujuan untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat kepada penduduk
dari berbagai kelompok masyarakat.
Perkembangan kota dan perencanaan kota dapat diamati seiring dengan ovolusi peradaban
“ Mesir kuno(kota Babilonia), Peradaban Yunani (Kota Athena), Peradaban Yunani ( Kota Militer), Abad Pertengahan (Renaisance), Revolusi industry dan gerakan revormasi (Abad 20) “
Perkembangan kota dan perencanaan kota dapat diamati seiring dengan ovolusi peradaban
“ Mesir kuno(kota Babilonia), Peradaban Yunani (Kota Athena), Peradaban Yunani ( Kota Militer), Abad Pertengahan (Renaisance), Revolusi industry dan gerakan revormasi (Abad 20) “
Kota
Zaman kuno
- Mesir, kota-kota di aegea.
- Beijing dan lukang
- Kota Klasik, kota neo-klasik
- Kota modern/pasca Revolusi Industri
- Mesir, kota-kota di aegea.
- Beijing dan lukang
- Kota Klasik, kota neo-klasik
- Kota modern/pasca Revolusi Industri
Apabila di tinjau secara dikotomis,
perkembangan kota berdasarkan prespektif historis dapat di bedakan antara Kota
Tradisional dan Kota modern.
A.
Kota
Tradisional .
Mempunyai pola-pola demografis dan ekologis yang dilintasi budaya tradisional setempat sehingga susunan kota-kota tradisional di pengaruhi oleh ctor-faktor yang membatasi pola susunannya. Yaitu keamanan dan persatuan, keterbatasan bahan dan teknologi, keterbatasan mobilitas, struktur social yang kaku, serta perkembangan yang agak lambat.
Mempunyai pola-pola demografis dan ekologis yang dilintasi budaya tradisional setempat sehingga susunan kota-kota tradisional di pengaruhi oleh ctor-faktor yang membatasi pola susunannya. Yaitu keamanan dan persatuan, keterbatasan bahan dan teknologi, keterbatasan mobilitas, struktur social yang kaku, serta perkembangan yang agak lambat.
B.
Kota
Modern.
Susunan
kota yang di pengaruhi oleh ctor-faktor yang tidak di pengaruhi oleh batasan
tertentu baik dalam komunikasi dan pengaruh pada masyarakat secara individual.
·
Sejarah
Perkembangan Kota Dan Perencanaan Kota Di Indonesia.
·
Periode
I ( abad ke-III-IX)
·
Periode
II ( abad IX-XV)
·
Periode
III (abad XV-XVIII)
·
Periode
IV (abad XIX-XX)
Pada
periode III, setelah kerajaan majapahit mulai runtuh dan jawa mulai tumbuh
kota-kota gersik, Tuban, Banten, Batavi, Aceh di Sumatra, makasar di Sulawesi,
sejalan dengan masuknya islam.
Pada
periode IV (abad XIX-XX), kota-kota di asia tenggara makin tumbuh dan
berkembang terutama sesudah adanya perjanjian wina dan dibukanya terusan suez.
Dalam prespektif lain, periodisasi perkembangan kota di Indonesia dapat di
bagi, Kota masa pra-kolonial dan masa colonial, Perkembangan kota-kota di
Indonesia dimasa lalu tak dapat dilepas dari penyebaran agama islam. Dalam hal
ini ada keterkaitan antara kedatangan islam dan pertumbuhan kota-kota pesisir.
Melalui proses Islamisasi terbentuklah kota-kota bercorak islam di
Sumatra,jawa, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi, dan dapat di simpulkan bahwa
tempat-tempat yang di datangi orang-orang muslim .
Perkembangan kota di Indonesia dibagi dalam lima periode.
- Masa kota-kota VOC
Perkembangan kota di Indonesia dibagi dalam lima periode.
- Masa kota-kota VOC
·
Masa
awal urbanisai.
·
Masa
perbaikan lingungan.
·
Masa
revolusi.
·
Masa
pembangunan berencana (1960-1970, 1970-1985, 1985-sekarang)
·
Sejarah
Perkembangan Kota-Kota Terencana vs Kota Organik.
Banyak kota di barat yang di
rancang dalam tradisi yang menyusun kota secara teknis, Kota-kota di bangun
secara terencana (planned city) yang lengkap secara geometris. Struktur kota
demikian sangat dipengaruhi oleh suatu tujuan dan rencana tertentu hingga
proses yang terjadi pada pembangunan kota ini tidak penting karena sebelumnya
sudah di atur dan terencanakan. Sebaliknya sebelum jaman modrn, kebanyakan
kota-kota di luar dunia barat di bentuk oleh tradisi yang disusun secara ctora.
Kota-kota yang dibagun demikian
dapat dikatakan kota tumbuh (growth city), dan kota tersebut dibangun dalam
suatu kawasan tanpa memperhatikan perancangan secara keseluruhan.
·
Tipologi
kota yang terdapat di Indonesia.
1.
Kota
Tradisional,
Kota
yang terbentuk dan dibangun oleh penguasa saat mendirikan pusat-pusat kerajaan
( kota Jogjakarta dan Surakarta)
2.
Kota
dagang pra-kolonial .
Kota
tradisional yang mengalami modivikasi, mesipun dominasi tradisionalnya masih
sangat kuat . ( ctoral, banten, ctora).
3.
Kota
ctoral Modern.
Kota
yang mengacu prinsip konsep kota modrn dan produk industry dari Negara-negara
maju.
Sebagian besar kota di
indonesiapada dasarnya berasal dari perkembangan kota-kota tradisional. Konsep
kota ini tradisional di Indonesia merupakan konsep yang berasal dari peradaban
agraris yang bersifat tertutup .
·
Kehancuran
Kota Tanpa Identitas.
Terdapat
beberapa masalah yang di hadapi dalam implementasikan rencana tersebut, akan
tetapi yang sangat menonjol adalah lemahnya penegakan ukum ( law enforcement )
dan kurangnya pelibatan masyarakat. Kenyataan menunjukan bahwa antara rencana
yang di susun dengan realitas kehidupan di dunia nyata terdapat kesenjangan
yang lebar. Pendekatan perencanaan dan rancangan ruang perkotaan di Indonesia
selama ini sering kali menggunakan pola top-dwon dan kurang melibatkan
unsur-unsur masyarakat pelaku ruang perkotaan . Perencanaan dan perancangan
ruang perkotaan tidak semata-mata didasarkan kepada pendekatan yang
obyektif-positivitis tanpa pertimbangan kenyataan subjektif-fenomenologis yang
dirasakan oleh pelaku ruang sebagai penggunanya.
Disisi
lain, kehancuran kota-kota di amerika saat itu salah satunya disebabkan system
perencanaan kota yang berbasis pada efiseiensi. Perubahan yang cepat dengan
tidak adanya penyeimbang fasilitas kota menimbulkan daerah kumuh yang sampai
sekarang masih jadi masalah utama di berbagai kota di dunia . Sebelum merdeka
pada tahun 1781, arsitektur amerika merupakan arsitektur colonial eropa yang
telah disesuaikan dengan iklim dan tenaga kerja dan hasi bagunan setempat. Form
Follow Function adalah gaya yang dianut dimana bentuk bangunan menikuti
fungsinya
Contoh-contoh
diatas memberikan penegasan bahwa sebuah kota yang dalam masa pertumbuhan dan
perkembangannya mengesampingkan peran warga lokal sebagai aktor utama, maka lambat laun kota tersebut akan
kehilangan citra dan identitasnya bahkan lebih jauh lagi mengakibatkan kematian
dan kehancuran.
PERKEMBANGAN KOTA
DALAM KONSTELASI REGIONAL
DALAM KONSTELASI REGIONAL
·
Faktor
Perkembangan Kota dalam Lingkup Wilayah.
Ada
dua teori yang dikemukakan untuk menunjukan faktor-faktor yang mempengaruhi laju perkembangan dan
pertumbuhan kota-kota dalam wilayah yang lebih luas.
1. Teori Basis ( Economi Base Theory)
2. Teori Kutub Pertumbuhan ( Growth Pole Theory )
1. Teori Basis ( Economi Base Theory)
2. Teori Kutub Pertumbuhan ( Growth Pole Theory )
Menurut
Teori Basis ( Economi Base Theory) dasar pendukung utama suatu kota berasal
dari penjualan barang/jasa yang berada diluar komunitas, yang di sebut ekspor,
yang membantu perluasan ekonomi lokal dengan menyediakan uang yang mendukung
aktifias pelayanan. Barang yang di irim keluar di sebut basis dan pekerja yang
berhubungan dengan penjualan lokal didalam komunitas disebut nonbasis, Dalam
Teori Basis ( Economi Base Theory) ada dua konsep penting yang besar
pengaruhnya terhadap perkembangan kota , Economi Of Scale dan Urbanization
Economies .
Teori Kutub Pertumbuhan ( Growth Pole Theory ) menjelaskan perkembangan ekonomi kota dalam suatu wilayah yang luas, dimana terjadi sumber daya yang menyebar dan penyerapan sumber daya yang timpang. Teori ini juga di topang oleh alat-alat ukur ekonomi sehingga dapat menjelaskanimplikasinya pada perencacaan dan dinamis.
Teori Kutub Pertumbuhan ( Growth Pole Theory ) menjelaskan perkembangan ekonomi kota dalam suatu wilayah yang luas, dimana terjadi sumber daya yang menyebar dan penyerapan sumber daya yang timpang. Teori ini juga di topang oleh alat-alat ukur ekonomi sehingga dapat menjelaskanimplikasinya pada perencacaan dan dinamis.
Berdasarkan
teori ini tidak semua kota generatif dapat dikategorikan sebagai pusat pertumbuhan,
karena pusat pertumbuhan harus memiliki 4 ciri.
- Adanya hubungan interen antara berbagai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.
- Adanya Multiplier effect
- Adanya konsentrasi geografis
- Bersifat mendorong pertumbuhan wilayah belakangnya.
- Adanya hubungan interen antara berbagai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.
- Adanya Multiplier effect
- Adanya konsentrasi geografis
- Bersifat mendorong pertumbuhan wilayah belakangnya.
·
Peranan
dan Fungsi kota Dalam Lingkup Wilayah .
Peran penting yang di emban oleh interaksi atau keterkaitan antara kota.
1. Mewujudkan integrasi spasial, karena manusia dan kegiatanya terpisah-pisah dalam ruang.
Peran penting yang di emban oleh interaksi atau keterkaitan antara kota.
1. Mewujudkan integrasi spasial, karena manusia dan kegiatanya terpisah-pisah dalam ruang.
2.
Memungkinkan adanya diferensiasi dan spesialilasi dalam system perkotaan.
3.
Sebagai wahana untuk pengorganisasian kegiatan dalam ruang.
4. Mengfalitasi serta menyalurkan perubahan-perubahan dari satu simpul ke simpul lainya .
4. Mengfalitasi serta menyalurkan perubahan-perubahan dari satu simpul ke simpul lainya .
Kota pada dasarnya merupakan
pusat kegiatan dalam lingkup wilayah yang lebih luas. Peranan kota sebagai
pusat kegiatan dalam suatu wilayah – nasional maupun lokal telah banyak di
tunjukan dalam berbagai literatur Barat yang menyimpulkan bahwa kota berperan
sebagai pusat industry manufactur atau sebagai pusat kegiatan pelayanan.
Di Indonesia, National urban development Strategy (NUDS,1985) telah mengidentifikasi empat fungsi dasar kota/perkotaan . Berdasarkan fungsinya dalam system kota-kota / system pusat permukiman nasional seperti diarahkan dalam rencana tata ruang Wilayah nasiolal (RTRWN. 1997), Kota-kota Indonesia terdiri dari pusat kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Di Indonesia, National urban development Strategy (NUDS,1985) telah mengidentifikasi empat fungsi dasar kota/perkotaan . Berdasarkan fungsinya dalam system kota-kota / system pusat permukiman nasional seperti diarahkan dalam rencana tata ruang Wilayah nasiolal (RTRWN. 1997), Kota-kota Indonesia terdiri dari pusat kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Secara Ekonomi perkembangan
sistem kota-kota global dipengaruhi oleh kapitalisme global, yang mempunyai
ciri dalam komoditas aktivitas, struktur pasar dan organisasinya. Pertumbuhan
kota yang semakin besar memunculkan desa-kota yang akhirnya terwujud wilayah
kota mega, yang mempunyai struktur terdiri atas kota besar, wilayah pinggiran, desa
– kota, desa berkepadatan penduduk tinggi, desa berkepadatan penduduk rendah
dan kota kecil.
sumber :
http://arsitekmudalabuanbajo.blogspot.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar